Semarang (ANTARA News) - Sutradara kawakan, Garin Nugroho, menilai film-film Indonesia saat ini terlalu meremehkan penonton dengan dibuat dan dikemas seadanya sehingga membuat penonton bosan.

"Itu salah satu sebab yang membuat perfilman Indonesia lesu, sebab proses pembuatannya kebanyakan dilalui secara instan," katanya usai pembukaan pameran seni video "Mediatopia" di Semarang, Jumat.

Menurut dia, dunia perfilman sebenarnya tidak berbeda dengan dunia-dunia lainnya, seperti perpolitikan, suatu ketika terjadi euforia dan semakin lama menimbulkan kelatahan hingga akhirnya lesu.

Ia mengatakan penonton sudah semakin cerdas dalam memilih film yang akan ditontonnya, seperti menyangkut perkembangan teknologi dan hal itu tidak diikuti oleh sineas-sineas perfilman Indonesia.

Apalagi, kata dia, perkembangan teknologi mengikuti kemajuan zaman untuk film-film yang dibuat secara berseri sangat penting, sebab film terbaru yang dihasilkan harus lebih bagus dari film sebelumnya.

"Sebagai contoh film `Batman`, dari seri pertama ke seri berikutnya pasti menghadirkan peralatan yang semakin canggih, itu baru dari teknologi. Memang membutuhkan biaya yang tidak murah," katanya.

Namun, kata dia, perkembangan tersebut harus selalu diikuti untuk menghadirkan suasana yang baru sehingga tidak membuat penonton bosan, sama halnya dengan perkembangan di bidang lainnya, seperti komunikasi.

"Jangan hanya dibuat berdasarkan pertimbangan murah dan melalui proses yang instan, sebab hal ini sama saja dengan meremehkan penonton. Ide-ide yang dihasilkan harus kreatif, tidak asal ramu," katanya.

Terkait tema film, ia mengaku tidak menjadi permasalahan, termasuk soal menjamurnya film-film bertema hantu dan seks sekarang ini, asalkan film tersebut dibuat dengan konten bagus dan diramu secara kreatif.

Film bertema hantu dan seks, kata Garin, sudah ada sejak dulu, tidak hanya sekarang saja, bahkan di luar negeri juga seperti itu. "Film-film hantu di luar negeri kan juga tetap laris," katanya.

Menurut Garin, dunia perfilman Indonesia memang membutuhkan waktu cukup lama untuk bangkit dari kelesuannya, dan hal itu harus diiringi dengan penyajian film-film bermutu dan memiliki konten bagus.

"Kalau sekarang ini, film-film bertema agama dan deduktif (sponsor) memang tengah ramai, dan film-film bertema personal akhirnya menghilang. Itu pergulatan biasa yang terjadi," kata Garin.(*)
(U.KR-ZLS/A041/r009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010