Bekasi (ANTARA News) - Permintaan rumah tipe menengah bawah dan menengah dengan kisaran harga mulai Rp100 juta hingga Rp500 Juta di Kota Bekasi cukup tinggi terlihat dari tingginya peminat dari setiap rumah yang dibangun pengembang.

Seorang pengembang yang tengah membangun perumahan tipe menengah di Kota Bekasi, Siswadi, Jumat, mengatakan, permintaan rumah tipe tersebut lebih bagus dibanding 2009 setidaknya bila dilihat selama semester I 2010.

"Rata-rata setiap bulan pemesanan mencapai 35 unit atau meningkat enam unit dibanding semester I 2009. Pengembang juga tambah bergairah mencari lokasi baru untuk pembangunan rumah kelas menengah," kata Siswadi yang kini tengah membangun perumahan "Telaga Sakinah" itu.

Ia mengatakan, relatif rendahnya suku bunga perbankan, membaiknya daya beli, pemilihan lokasi serta kualitas bangunan yang bagus hingga harga rumah tipe tersebut meningkat menjadi daya tarik dalam memasarkan rumah.

Setiap bulan di Kota Bekasi setidaknya mampu dipasarkan 1.500-an unit rumah tipe menengah tersebut dengan pangsa pasar warga yang memiliki penghasilan (take home pay) berkisar Rp9-15 Juta perbulan.

Bagi pengembang menurut Siswadi margin keuntungan yang didapat dari penjualan tersebut tidak terlalu besar, dengan kisaran 5-10 persen setiap unitnya dari harga jual namun dengan tetap tingginya permintaan rumah mereka tetap termotivasi untuk terus membangun.

Terkait naiknya tarif dasar listrik menurut Siswadi yang juga seorang penyandang cacat itu tidak akan terlalu berpengaruh pada permintaan rumah menengah dan menengah atas.

"Kenaikan tarif dasar listrik hanya akan mempengaruhi pemasaran rumah sangat sederhana disebabkan daya beli konsumen jenis tersebut sangat sensitif terhadap perubahan harga.

Ia mengatakan, ada dampak efek domino dari kenaikan TDL bagi konsumen rumah sangat sederhana berupa meningkatnya pengeluaran mereka hingga uang yang digunakan untuk membayar cicilan tidak lagi mencukupi.

"Pengaruhnya bisa terlihat selama semester II 2010. Secara logika bila sebelumnya dari penghasilan mereka bisa disisakan 1/3 untuk cicilan rumah sekarang dengan kenaikan TDL penghasilan yang digunakan untuk memenuhi biaya hidup tambah besar," ujarnya.

Terkait dengan harga rumah, untuk wilayah Jabodetabek kisaran harga Rp45-Rp70 juta untuk rumah tipe RSS sudah sulit didapatkan. Kalaupun ada lokasi biasanya jauh dari jalan utama serta kontruksi bangunan kurang memenuhi standar.

Ia menyatakan, mahalnya harga tanah di wilayah Jabodetabek menyebabkan harga rumah sederhana sehat sulit dipatok di bawah Rp70 Juta, termasuk perumahan yang dibangun oleh pengembang plat merah seperti Perumnas. (ANT/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010