Jakarta (ANTARA News) - Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 bisa mencapai 6,4 persen karena tren ekspektasi pasar yang tetap positif meski masih dibutuhkan keberanian pemerintah untuk mencapai target dan program yang sudah dicanangkan.

"Saya melihat tidak ada gangguan berarti. Kalau program pemerintah berhasil, pertumbuhan akan lebih cepat lagi di 2011 dan pertumbuhan bisa 6,4 persen," kata Chief Economist Dana Reksa Institute, Purbaya Yudi Sadewa dalam "HIPMI Economic Outlook 2011" di Jakarta, Kamis.

Ia memperkirakan, situasi Indonesia yang kondusif ini hingga 2016, ekonomi akan terus ekspansif sehingga bisa dikatakan ke depan akan sangat cerah. "Hambatannya cuma satu yakni prilaku sistem yang jarang berubah," katanya.

Ekonomi senior Mirza Adityaswara malah menilai, saat ini kondisi Indonesia seperti era 90-97 yang ditandai dengan stabilnya politik, pasar finansial booming, dan suku bunga berada pada level terendah sepanjang sejarah, serta perbankan sehat karena sudah direkap semua.

"Artinya perbankan sudah punya modal dan bahkan beberapa sudah right issue. Jadi, bisa dibilang 80 persen dari ekuitas mendukung untuk pertumbuhan ekonomi," katanya.

Oleh karena itu, tegasnya, untuk bisa tumbuh 6,3-6,5 persen sangat mungkin dicapai dan bila ingin lebih tinggi harus kerja lebih keras lagi, terutama penyediaan infrastruktur dan koordinasi pusat-daerah dan penyerapan APBN dan APBD.

Namun, tambah Mirza, tantangan yang layak diwaspadai adalah apakah Eropa benar-benar bisa keluar dari krisisnya. "Tapi saya yakin masa IMF dan Amerika mau akan dibiarkan jatuh lagi untuk kedua kalinya setelah krisis global 2008. Kalau ini bisa dilewati, maka 2011 bisa dilewati dengan baik," katanya.

Sementara itu, bagi pebisnis yang juga Chief Executive Officer (CEO) Northstar Pacific, Patrick Waluyo, dirinya kuatir dengan persoalan inflasi yang dikhawatirkan akan menjadi masalah, terutama terkait dengan rencana pembatasan subsidi BBM yang pada sisi lain adalah menaikkan harga jualnya ke harga pasar.

"Itu jelas akan memicu inflasi. Jika tak terkendali bisa hingga 40 persen. Jika ini terjadi, maka otoritas moneter pasti akan memainkan instrumen suku bunga lagi dan akhirnya terjadi pelambatan ekonomi. Ini harus dipikirkan oleh pemerintah," katanya.

Namun, jika hal itu bisa dikendalikan dengan baik, maka posisi dan situasi ekspansif ekonomi Indonesia akan tetap terjaga.

"Kongkritnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk ekspansi. Kita punya pondasi yang baik. Iklim yang baik. Mestinya kita dalam posisi yang baik. Waktunya untuk ekspansi habis2an. Kita lihat juga banyak sekali investor luar bahkan mau masuk ke Indonesia," katanya.

Mirza juga menambahkan, secara makro, inflasi 2011 diperkirakan akan lebih tinggi dari realisasi tahun ini karena harga komoditi dunia dan domestik memang cenderung naik karena adanya permintaan yang juga naik.

"Apalagi kalau Eropa pulih, `demand` akan naik juga. Tapi, harga komoditi tidak akan segila seperti pada 2008," katanya.

Suku Bunga

Khusus soal suku bunga, Mirza juga menilai, akan bertahap dan menjadi single digit dan untuk itu pemerintah harus mampu menurunkan inflasi. "Kalau masih kepala 6, susah. Inflasi harus bisa 2 persen dan itu belum pernah kita capai dalam kondisi normal," katanya.

Selain itu, tegasnya, kompetisi pada berbagai segmen kredit harus dinaikkan, khususnya di level menengah.

Kemudian, kompetisi bank untuk penyaluran kredit masih harus ditambah, juga untuk level mikro.

"Kalau dulu pemainnya para tengkulak, namun setelah BRI, Danamon, BTPN masuk, dll, pasti bunga di pasar akan turun. Kredit motor, mobil akan turun. Kompetisinya harus disemua level. Termasuk di level bank. Tapi ini makan waktu," katanya.

(E008/R010/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010