Mataram (ANTARA News) - Sekitar 140 orang Jemaat Ahmadiyah hingga kini masih bertahan di asrama Transito Mejeluk Mataram milik Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Warga Ahmadiyah itu pada Jumat terlihat membuat gubuk-gubuk di pinggiran tembok asrama dengan menggunakan gedek sehingga kelihatan amat kumuh.

Gubuk-gubuk itu berukuran sekira dua meter persegi. Di depan gubuk-gubuk, mereka juga memelihara burung dan ayam sehingga menambah kekumuhan.

Mereka mengungsi ke asrama Transito setelah rumah mereka di Ketapang, Gegerung, Lombok Barat dirusak dan dibakar massa sekitar empat tahun lalu (2006).

Sekitar awal Nopember 2010 sejumlah warga Ahmadiyah mencoba kembali ke rumahnya di Ketapang, namun ditolak warga bahkan warga kembali marah dengan merusak rumah-rumah milik Ahmadiyah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Nusa Tenggara Barat, Suhaimi Ismy, mengatakan bahwa warga Ahmadiyah sulit kembali ke rumahnya selama mereka tidak mau membaur dengan masyarakat.

"Yang dimaksud membaur di sini adalah dalam masalah agama, misalnya shalat Jumat harus bersama-sama masyarakat bukan dilaksanakan sendiri oleh Ahmadiyah," katanya.

Sebagai contoh saat bulan puasa Jemaat Ahmadiyah melakukan shalat Tarawih di asrama transito, apalagi shalat Idul Fitri juga dilakukan di asrama, demikian juga shalat Jumat, ujarnya.

Hal seperti ini yang membuat masyarakat kesal sehingga membuat warga Ahmadiyah tidak berani kembali ke kampung halamannya di Gegerung, Lombok Barat.

Sebelumnya sempat diisukan warga Ahmadiyah akan mencari suaka ke luar negeri, dan pemerintah sama sekali tidak melarang.

Dengan kepergian mereka dari NTB, diharapkan tidak ada lagi masalah yang ditimbulkan, ujarnya.

Dikatakannya, sebenarnya masyarakat Ketapang sangat terbuka dan mau menerima siapa saja asalkan bisa membaur dengan warga Ketapang.
(T.B004/D009/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010