"Kita Manusia" gerakan untuk hadirkan tempat yang layak bagi ODGJ

"Kita Manusia" gerakan untuk hadirkan tempat yang layak bagi ODGJ

Poster gerakan "Kita Manusia". ANTARA/HO-Kita Manusia.

Jakarta (ANTARA) - Menjadi Manusia menggandeng banyak pihak untuk tergabung dalam "Kita Manusia", gerakan yang memiliki misi menghadirkan infrastruktur kesehatan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta mengedukasi masyarakat yang masih minim memahami penanganan ODGJ di Indonesia.

Gerakan itu diinisiasi oleh platform sosial Menjadi Manusia menggandeng Kita Bisa, Karin Novilda, Ariel Tatum, dr. Jiemi Ardian, Avianti Armand, Ubah Stigma, TeamUp, Infia, hingga Marsan Susanto yang memiliki perhatian pada hal masalah kesehatan mental.

“Kami percaya, semua ODGJ berhak pulih. ODGJ yang tidak tertangani sekarang juga manusia, seperti kita. Namun sayangnya, karena stigma yang kuat dan minimnya infrastruktur kesehatan, banyak dari mereka tidak mendapatkan treatment yang tepat,” kata pengagas Menjadi Manusia Rhaka Ghanisatria dalam keterangannya, Rabu.

Kesehatan mental menjadi salah satu isu yang marak dibicarakan dewasa ini. Khususnya di masa pandemi, yang mengharuskan masyarakat bisa beradaptasi dengan banyak kebiasaan baru dalam berbagai keterbatasan.

Baca juga: Kiat "stay cool" saat sedang stres

Baca juga: Orangtua wajib diedukasi soal kesehatan mental pada anak bibir sumbing

Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan pemeliharaan kesehatan jasmani. Kementerian Kesehatan mencatat pada 2018 ada sebanyak 9,8 persen dari total penduduk Indonesia yang mengalami gangguan kejiwaan.

ODGJ merupakan orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

“Dari angka tersebut, 12.382 ODGJ hidup dalam pemasungan. Hanya 38.14 persen ODGJ di Indonesia berhasil menerima perawatan yang baik dan benar, sisanya mungkin terlantar dan jumlah ini terus bertambah,” kata Rhaka menjelaskan kondisi ODGJ di Indonesia.

Keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa, banyak yang tidak memiliki pengetahuan memadai terkait cara penanganan dan perawatan, terlebih yang tinggal di pedesaan.

Minimnya jumlah rumah sakit di Indonesia membuat banyak ODGJ akut tidak tertolong. Mereka tidak mendapatkan hak sebagai warga negara, sulit memperoleh akses kesehatan, serta tidak diterima masyarakat walaupun sudah kembali produktif. Pada kebanyakan kasus, berakhir dengan pemasungan.

Penyediaan infrastruktur kesehatan yang layak bagi ODGJ dinilai sangat perlu. Maka dari itu, Kita Manusia ingin merenovasi panti rehabilitasi yang sudah kelebihan kapasitas.

Merayakan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober, Kita Manusia akan melangsungkan berbagai aktivitas edukasi, yang juga bertujuan untuk mengumpulkan donasi.

Dimulai dari pembuatan video dokumenter mini yang menampilkan Ariel Tatum, film pendek yang diperankan oleh Ray Sahetapy, dan berbagai macam video edukasi tentang kesehatan jiwa supaya masyarakat lebih mengenal ODGJ dan kondisi mereka yang belum tertangani dengan baik.

Video-video itu nantinya akan ditayangkan di berbagai kanal media sosial Menjadi Manusia.

Selain itu, "Kita Manusia" juga akan menghadirkan kegiatan- kegiatan daring melibatkan masyarakat serta ODGJ yang telah berhasil bangkit.

“Harapan kami, kampanye Kita Manusia akan dapat menghimpun donasi untuk menyediakan tempat yang lebih layak untuk ODGJ di Indonesia. Kami akan merenovasi panti rehabilitasi Al- Fajar Berseri yang didirikan oleh Marsan Susanto yang saat ini ditinggali oleh teman-teman ODGJ, supaya mereka mendapatkan keamanan dan kenyamanan selama tinggal di sana,” kata Rhaka.

Puncak rangkaian kegiatan Kita Manusia akan berlangsung pada 10 Oktober 2021, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia atau "World Mental Health Day".

Hal itu mengingat visi gerakan dan hari perayaan itu memiliki tujuan untuk mengkampanyekan kesehatan mental dan mendidik masyarakat mengenai isu-isu yang relevan berkaitan dengan kesehatan jiwa.

Baca juga: TikTok luncurkan panduan kesehatan mental

Baca juga: Praktisi: Paradigma pendidikan belum anggap perlu isu kesehatan mental

Baca juga: Peka terhadap tanda, bantu cegah bunuh diri

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Tim gabungan evakuasi harimau Sumatera dari ancaman konflik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar