Jakarta (ANTARA News) - Suhu laut panas di selatan Indonesia mendatangkan siklon tropis Vince di sekitar 840 kilometer sebelah selatan Cilacap, Jawa Tengah.

Badai itu membawa pengaruh angin kencang, gelombang tinggi, dan awan hujan di sejumlah kawasan seperti di Nusa Tenggara, Bali, Jawa, hingga Sumatera dalam seminggu ini, kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dr Edvin Aldrian di Jakarta, Kamis.

"Meski mengarah ke tenggara atau Australia, tapi pengaruh ekor badai ini perlu diwaspadai. Pengaruh ini terjadi sampai beberapa hari ini sampai siklon tersebut mendarat," katanya.

Saat ini, ujar Edvin, pusaran Vince sedang berada di titik 15 derajat Lintang Selatan dan 109 Bujur Timur dan bergerak menjauhi Jawa. Penyebab munculnya siklon tropis ini adalah suhu panas di selatan Indonesia atau utara Australia yang biasanya terjadi pada Desember-Maret.

Sebagai sebuah siklon, Vince muncul karena ada suatu wilayah atmosfer bertekanan rendah yang kemudian membentuk bibit siklon berupa pusaran angin yang kemudian berputar, membesar dan bergerak ratusan kilometer per jam yang akan meluruh dalam beberapa hari.

Mengenai fenomena banjir bandang di Negara Bagian Queensland, Australia, Edvin mengatakan, seperti halnya siklon Vince, fenomena ini juga disebabkan suhu laut yang panas di utara Australia.

Hanya saja, lanjut dia, suhu laut di kawasan ini kali ini sedang ekstrem panas yang mencapai 31 derajat Celcius sampai-sampai bisa memicu banjir di Australia.

"Setahun ini memang luar biasa panas (di utara Australia -red)," katanya.

Ia menolak anggapan bahwa fenomena banjir Australia ini terkait dengan La Nina.

Turunnya salju di selatan Australia pada musim panas juga merupakan pengaruh dari suhu laut panas di utara Australia ini, jelasnya.

"Karena tropisnya panas jadi tekanan rendah sehingga menarik massa udara dari lintang tinggi sampai dari sub polar dan mnyebabkan turun salju di selatan Australia (yang selama ini tidak pernah turun salju meski pada musim dingin- red)," katanya.

Ia mengakui bahwa Indonesia perlu waspada juga dengan fenomena suhu laut panas ekstrem di selatan Indonesia ini, namun tidak mengartikan bahwa akan ada banjir bandang juga di Indonesia dalam waktu dekat ini.

"Tidak bisa begitu, karena sangat sporadik. Ini dinamika laut," katanya. Ia mengakui bahwa banjir musim panas di Australia ini terkait erat dengan fenomena perubahan iklim.
(D009/N002/A038)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011