Bandung (ANTARA News) - Seorang bocah berumur empat tahun asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diketahui memiliki kelamin ganda dan sekarang sedang dalam penanganan medis di rumah sakit.

Ina anak pasangan Damin dan Rani Marlinda warga Jalan Gunung Puntang Kampung Pasirhuni RT 03 RW 06 Desa Pasirhuni, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, diketahui memiliki kelamin ganda (hermaprodit) pada umur empat tahun.

Menurut Kepala Desa Pasiehuni Agus Suparman yang dimintai keterangan Rabu, Ina ketika dilahirkan berkelamin perempuan.

"Kebetulan rumah Ina terletak di belakang tempat saya bekerja. Kalau saat lahir dia itu perempuan, tapi begitu menginjak umur empat tahun di bagian tengah vaginanya tumbuh penis seukuran jempol orang dewasa," ujar Agus.

Mengetahui anaknya memiliki kelainan, kata Agus, kedua orang tua Ina langsung membawanya ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan.

"Dia baru tiga bulan terakhir ini menjalani pengobatan ke rumah sakit. Awalnya menggunakan biaya sendiri namun saat ini kami sedang mengusahakan untuk membuat Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pengobatannya," ujar Agus.

Agus menuturkan, kelakuan bocah perempuan tersebut hampir sama dengan laki-laki.

"Saya sempat beberapa kali mengajak ngobrol bocah tersebut dan memang kelakuan seperti laki-laki. Kalau main dia tidak mau bermain boneka dan ketika pergi mengaji ia tidak mau mengenakan kerudung maunya pakai peci dan baju koko," ujarnya.

Sementara itu, Pakar Ginekologi dr Hanny Ronosulistyo SpOG menyatakan, penyebab dari kelamin ganda yang diderita oleh Ina ialah karena kelainan genetik.

"Saya memperkirakan ada yang salah dengan kromosom pembentuk seksualitasnya atau tidak sempurna. Dan ini bisa didiagnosa melalui tes kromosom," ujarnya.

Ia mengatakan, pada akhirnya kedua jenis kelamin pada Ina tidak akan sempurna baik secara bentuk maupun fungsi.

"Nantinya kedua kelamin tersebut akan tidak sempurna tumbuhnya. Maka wajar kalau saat dewasa nanti dia tidak bisa memberikan keturunan karena sistem reproduksinya juga tidak sempurna," katanya.

Pihaknya juga mengimbau agar keluarga juga bisa bersifat netral atau tidak memaksakan dalam penentuan jenis kelamin si anak tersebut.

"Saya harap keluarga tidak menekan ke si anak. Jangan sampai karena saat ini dia berkelakuan seperti laki-laki maka dipaksakan untuk jadi laki-laki ketika ia besar. Biarkan saja si anak yang menentukan," ujar mantan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat ini.

(ANTARA/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011