Menlu sebut batik sebagai "soft power" diplomasi Indonesia

Menlu sebut batik sebagai "soft power" diplomasi Indonesia

Arsip - Pekerja menjemur kain batik sepanjang 125-250 meter di Medono, Pekalongan, Jawa Tengah, September 2021. ANTARA/Harviyan Perdana Putra/foc.

Jakarta (ANTARA) - Batik sebagai soft power diplomasi Indonesia yang semakin kokoh dan diakui dunia, kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. 

“Batik Indonesia semakin kokoh dan sebagai bagian dari integral soft power diplomasi Indonesia,” kata Menlu Retno dalam sambutannya pada peringatan "Hari Batik Nasional 2021: Hibah Batik dari BINHouse dan Peminjaman Batik Lawas dari Yayasan Batik Indonesia kepada Perwakilan RI di Luar Negeri" secara virtual di Jakarta, Sabtu.

Karena itu, kata dia, Kementerian Luar Negeri sebagai ujung tombak diplomasi Republik Indonesia harus terus berupaya menghadirkan batik sebagai identitas bangsa Indonesia dalam berbagai kesempatan di panggung dunia.

“Hari ini menandai lebih dari satu dasawarsa perjalanan diplomasi batik Indonesia yang telah diakui dunia, tidak hanya sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga sebagai warisan budaya tak benda sejak pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009. Hal itu menunjukkan pengakuan dunia atas kekayaan budaya dan komitmen Indonesia dalam melindungi batik Indonesia,” ujarnya.

Retno menuturkan pada Mei 2019, untuk pertama kalinya di Dewan Keamanan PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres dan hampir seluruh negara anggota Dewan Keamanan PBB mengenakan batik Indonesia.

Baca juga: Jokowi: Batik bagian gaya hidup Indonesia yang mendunia

Baru-baru ini, lanjut dia, batik Papua tampil menghiasi ajang "New York Fashion Week" dan selama satu bulan pesona batik Indonesia hadir di museum All Russian Decorative Art yang terletak di pusat Kota Moskow.

“Kita semua memiliki tanggung jawab menjadi duta batik Indonesia, tentunya termasuk para diplomat RI. Pengarusutamaan batik menjadi kurikulum pendidikan dan pelatihan para diplomat juga dilakukan guna meningkatkan upaya mempromosikan batik Indonesia di luar negeri,” katanya.

Menurut dia, batik bukan hanya sebuah hasil karya, melainkan dalam setiap titik, gambar, dan lembar terdapat cerita dan filosofi yang dalam.

Untuk itu, Retno mengatakan, filosofi dan cerita itulah yang harus sering diceritakan, sehingga dunia akan lebih memahami dan mengapresiasi karya tersebut.

“Tugas para diplomat untuk menceritakan cerita dan filosofi tersebut dan menyampaikan, story-telling kepada dunia mengenai setiap lembar kain batik Indonesia dan filosofinya,” katanya.

Dia menilai diplomasi budaya tentunya sebagai alat mengenalkan lebih jauh Indonesia dan seyogyanya menjadi pendukung juga pelaksanaan diplomasi ekonomi.

Baca juga: Mengulik keindahan kolaborasi motif batik dengan ikon dunia
Baca juga: Dari perantau jadi langganan pejabat, kisah anak muda pengusaha batik


Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Banjir landa Pekalongan, ratusan warga terdampak mengungsiĀ 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar