London (ANTARA News/AFP) - Klub-klub Liga Inggris kembali menggelontorkan dananya secara jor-joran tanpa memperdulikan prinsip ekonomi dari mahzab manapun, yang penting bagi mereka adalah mendapatkan pemain yang diincar.

Puncaknya adalah transfer yang dilakukan oleh Chelsea atas Fernando Torres dari Liverpool dengan nilai yang memecahkan rekor transfer pemain di liga Inggris, yaitu sebesar 50 juta pound (80,5 juta dolar).

Dalam akhir dari episode bajak membajak pemain yang dramatis pada penutupan jendela transfer, Senin, juara bertahan Chelsea berhasil mendapatkan striker Spanyol itu dengan harapan ia bisa membangkitkan Chelsea dari ketertinggalan 10 angka dari Manchester United pada klasemen sementara saat ini.

Pada detik-detik akhir itu juga Liverpool berhasil "memaksa" Newcastle United melepaskan Andy Carroll (22) dengan iming-iming poundsterling senilai 35 juta pound, nilai transfer yang merupakan rekor tersendiri bagi klub itu, dan juga mengejutkan karena Andy Carrol sebenarnya masih terbilang "anak baru" di Liga Inggris.

Secara total, pengeluaran yang dilakukan oleh klub-klub Liga Inggris kali ini mendekati angka 200 juta pound ($321 juta), bandingkan dengan nilai transfer pada Januari tahun lalu yang hanya berjumlah 29 juta pound.

Semua itu membuktikan bahwa bagi sepak bola, prinsip ekonomi "kehati-hatian" tidak pernah berlaku.

Sepak bola bermain dengan aturan ekonominya sendiri, dan mantera "belanja besar untuk hasil besar" mungkin sudah menjadi prinsip ekonomi tersendiri bagi klub-klub Liga Inggris.

Chelsea contohnya, tim yang sejak 2003 dijalankan dengan dana tak terbatas milyarder Rusia Roman Abramovich telah menyedot sekitar 750 sampai 800 juta pound uang pemiliknya dalam lima atau enam tahun terakhir demi terciptanya sebuah tim yang mumpuni.

Aksi klub itu menyambar Torres menggarisbawahi ambisi pemiliknya untuk mengembalikan dominasi Chelsea yang pada musim kompetisi saat ini tengah terseok-seok mempertahankan gelarnya.

Di musim sebelumnya Abramovic sempat mengekang pengeluarannya, namun berkat stok pemain bintangnya yang melimpah Chelsea masih bisa memperoleh "double" di musim itu yaitu juara Liga Inggris dan juara Piala FA.

Meskipun demikian, ambisi tertinggi Abramovic adalah menjadi Juara Liga Champion Eropa, itulah sebabnya kenapa ia memutuskan untuk kembali ke gaya lamanya: melakukan pembelian habis-habisan atas pemain-pemain yang bintang, termasuk yang terakhir adalah David Luiz, seorang pemain bertahan asal Brazil dengan nilai 21 juta pound.


Kekayaan tak terbatas

Uang foya-foya Abramovich pada Senin itu "hanya sebagian dari kekayaannya yang tak terbatas" kata Joe McLean dari kantor akuntan publik Grant Thornton, yang mengkhususkan diri pada audit keuangan klub-klub sepak bola.

"Mari kita lihat seluruh investasi yang telah ditanamkan oleh Abramovic sejauh ini di Chelsea. Investasinya yang bernilai 750 sampai 800 juta pound dalam lima atau enam tahun terakhir itu hanya 15-20 persen dari seluruh kekayaannya," kata McLean kepada Radio BBC, Selasa.

Ironisnya, belanja besar Chelsea atas Torres bertepatan dengan hari dimana klub itu mengumumkan rugi tahunan sebesar 71 juta pound.

Kondisi itu memicu perkiraan bahwa Chelsea dapat terkena larangan mengikuti Liga Champion dengan alasan melanggar aturan tentang "fair play" yang sedang disusun oleh UEFA dalam upaya badan pengatur sepak bola Eropa itu untuk lebih mengontrol hobi bajak-membajak pemain oleh klub-klub kaya Eropa.

Kecendrungan itu memang tak terbantahkan, Liverpool misalnya, setelah berhasil menangguk dana dari hasil "merelakan kepergian" Torres, klub ini kemudian balas membajak pemain-pemain bintang potensial lain, antara lain Andy Carrol dari Newcastle United, dan Luis Suarez dari Ajaz Amsterdam seharga 22,6 juta pound ($36 juta).

Di papan tengah aksi tarik menarik pemain juga tak kalah seru, Aston Villa yang sedang terancam masuk zona degradasi sempat membuat mata pengamat sepak bola menjadi terbelalak dengan keberanian mereka mengambil-alih Darren Bent dari rival terdekat mereka Sunderland seharga 24 juta pound demi suatu upaya agar tahun depan mereka tetap berada di zona aman Liga Inggris.

Jika nanti Aston Villa akhirnya memang berhasil terhindar dari ancaman ketersingkiran maka tak pelak lagi prinsip "belanja besar untuk hasil besar" akan semakin populer di mata para pemilik klub. (OKS/A008/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011