Satu-satunya yang tak musnah terbakar adalah keinginan kami untuk berparade
Rio de Janeiro (ANTARA News) - Kebakaran besar di seluruh pusat Karnaval di Rio de Janeiro pada Senin (7/2), menghancurkan ribuan kostum dan barang lain dan membuat persiapan pesta tahunan di Brazil itu jadi kacau.

Gambar televisi memperlihatkan asap hitam tebal membubung ke udara di bagian tengah Rio, Senin pagi, dari satu bagian kompleks Kota Samba, tempat grup Karnaval terbaik di kota tersebut menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyiapkan parade spektakuler tahunan mereka, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Sedikitnya tiga dari 12 kelompok, atau "sekolah", samba kenamaan hangus dilahap api, demikian laporan media. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa pekan sebelum parade mereka yang sudah dijadwalkan melewati Sambadrime di Rio buat Karnaval tersebut berlangsung pada 4 Maret.

Para pekerja terlihat memasuki kompleks itu untuk berusaha menyelamatkan sebagian barang sementara 80 petugas pemadam berjuang mengendalikan api, yang dapat dipadamkan menjelang siang. Tidak jelas bagaimana kebakaran tersebut terjadi.

Helinho de Oliveira, Kepala Sekolah Samba Grande Rio, mengatakan si jago merah menghancurkan lebih dari 3.000 kostum yang telah dibuat oleh kelompoknya selama berbulan-bulan.

"Satu-satunya yang tak musnah terbakar adalah keinginan kami untuk berparade," kata Oliveira kepada stasiun televisi Globo.

Sebagian pekerja yang tiba di lokasi tak mampu menahan air mata ketika mereka menyaksikan jerih payah mereka selama berbulan-bulan musnah dilahap api. Tak ada laporan mengenai korban jiwa dalam kebakaran itu, yang mulai terjadi Senin pagi, kendati satu orang dirawat karena menghisap asap.

Kostum dan pelampung yang digunakan dalam parade Karnaval tersebut memang dibuat dari bahan yang mudah terbakar seperti foam dan kertas. Kompleks Kota Samba diselesaikan pada 2005 dengan biaya miliaran dolar AS, sebagian ditujukan untuk menghindari kebakaran yang pada masa lalu telah memusnahkan persiapan Karnaval.
(*)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2011