Kairo (ANTARA News) - Mesir telah membebaskan 34 tawanan politik, orang-orang pertama yang dibebaskan sejak pemerintah Presiden Hosni Mubarak menjanjikan pembaruan untuk mengakhiri demonstrasi rakyat.

"Menteri dalam Negeri Mahmoud Wagdy hari ini telah mengeluarkan perintah pembebasan 34 tahanan politik yang diperkirakan termasuk di antara elemen-elemen garis keras, setelah mengevaluasi sikap mereka," kata kantor berita negara MENA, Selasa, seperti dikutip Reuters.

"Mereka telah menunjukkan maksud baik dan menyampaikan keinginan mereka untuk hidup dengan damai."

Menurut kantor berita itu, mereka telah menyerahkan diri mereka sendiri pada pemerintah setelah melarikan diri dari penjara pada beberapa hari kekacauan bulan lalu.

Pasukan keamanan telah ditarik dari jalanan setelah gagal menumpas jutaan demonstran pada 28 Januari. Keamanan macet di banyak penjara di negara itu.

Pada 1990-an, Mesir memerangi kelompok Islam garis keras yang ingin mengganti republik sekuler Mubarak dengan negara Islam. Banyak pengikut Islam garis keras masih dipenjara dari waktu pendahulu Mubarak, Anwar Sadat, yang dibunuh oleh tentara yang memiliki hubungan dengan sebuah kelompok Islam radikal pada 1981.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan tidak jelas berapa banyak orang yang ditahan di Mesir karena kegiatan politik, seperti masuk kelompok yang dilarang atau merencanakan atau melakukan aksi kekerasan, tapi mereka memperkirakan jumlahnya ribuan.

Mubarak telah menawarkan konsesi dalam upaya untuk mengakhiri demonstrasi, dengan menunjuk seorang wakil presiden dan kabinet baru serta pembaruan politik. Pemerintah mengatakan itu dapat mencakup pembebasan tahanan dan pencabutan undang-undang darurat. (S008/B002/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011