Bantu peternak, Kemenperin beri stimulus bangun Milk Collecting Point

Bantu peternak, Kemenperin beri stimulus bangun Milk Collecting Point

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika (kedua kiri) mendengarkan penjelasan dari Ketua Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Aun Gunawan (kiri) mengenai Milk Collecting Point (MCP) yang diterapkan oleh KPBS Pangalengan di Bandung, Jawa Barat. ANTARA/HO-Biro Humas Kemenperin/am.

Kemenperin akan memberikan stimulus untuk membantu pembangunan MCP dengan memberikan bantuan mesin dan peralatan, yang akan dilanjutkan oleh industri pengolahan susu lainnya yang bermitra dengan koperasi atau peternak
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung kemitraan industri pengolahan susu dengan koperasi dan peternak melalui salah satu model kemitraan di mana penerimaan susu segar dari sistem manual menjadi sistem digital yang disebut Milk Collecting Point (MCP).

“Kemenperin akan memberikan stimulus untuk membantu pembangunan MCP dengan memberikan bantuan mesin dan peralatan, yang akan dilanjutkan oleh industri pengolahan susu lainnya yang bermitra dengan koperasi atau peternak,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika lewat keterangannya di Jakarta, Selasa.

Keberhasilan MCP yang terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak dan masyarakat sekitar, membuat Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin memberikan program bantuan mesin dan peralatan untuk MCP ke-8 di Kampung Babakan Kiara Pengalengan pada tahun 2021.

Pada 2022 program serupa juga akan dilaksanakan di koperasi susu di wilayah lain yang bekerja sama dengan industri pengolahan susu lainnya. Hal itu mengingat sudah ada 14 industri pengolahan susu yang melakukan kemitraan dan menyerap susu segar dalam negeri.

Manfaat yang diperoleh dengan dilakukannya transformasi digital melalui pembangunan MCP antara lain adalah meningkatkan kualitas susu segar dan menjaga cemaran bakteri patogen melalui uji Total Plate Count (TPC) tetap rendah.

Selain itu, memotivasi peternak untuk meningkatkan produksi susu, mempercepat proses pembayaran susu ke peternak, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik koperasi maupun peternak.

“Keberhasilan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan membuat koperasi ini mampu berkembang dan membangun unit-unit bisnis yang lain selain pelayanan penyetoran susu segar,” imbuh Putu.

Selain model kemitraan MCP, Kemenperin juga akan menyiapkan sistem penerimaan susu segar di koperasi susu dan tempat penampungan susu berubah dari sistem manual menjadi sistem digital untuk mengetahui data ketersediaan bahan baku susu segar dalam negeri secara real time.



Baca juga: Pacu industri pengolahan susu, Kemenperin usulkan insentif BMDTP

Pemberian bantuan kepada koperasi susu dan tempat penampungan susu ini akan dilakukan mulai tahun 2022 dengan tujuan untuk menyediakan data pasokan susu segar dalam negeri secara nasional.

“Sistem penerimaan susu segar berbasis digital ini akan mendukung program neraca komoditas yang sedang disiapkan pemerintah karena akan diketahui data supply bahan baku susu dalam negeri secara nasional dan data demand yang diperoleh dari data kebutuhan bahan baku susu dari industri pengolahan susu,” jelasnya.

Sementara itu Ketua KPBS Pangalengan Aun Gunawan menyebutkan pihaknya adalah salah satu koperasi yang telah menerapkan MCP.

KPBS Pangalengan saat ini memiliki sebanyak 4.390 anggota peternak, yang meliputi 14.607 ekor sapi perah, dengan hasil produksi susu segar mencapai 26,7 juta kg per tahun.

MCP merupakan tempat penampungan susu segar dengan cara modern atau penerimaan susunya telah memanfaatkan sistem teknologi Industri 4.0, di mana input data penerimaan susu segar dilakukan menggunakan sistem barcode berdasarkan ID yang dimiliki masing-masing peternak.

Saat ini KPBS Pangalengan sudah mengoperasikan tujuh MCP yang pembangunannya bekerja sama dengan PT Frisian Flag Indonesia.

“Adanya MCP ini, ternyata bisa meningkatkan pendapatan signifikan bagi para peternak lokal. Kenaikan yang diterima secara langsung itu bisa sampai 10 persen," jelas Aun.

Ia menambahkan, Koperasi susu juga ikut memperoleh manfaat, yaitu meningkatnya jumlah dan kualitas susu segar yang membuat koperasi menjadi berkembang investasinya, dan hasil usaha yang bisa diberikan ke anggota khususnya peternak dapat lebih besar.

Melalui MCP, anggota KPBS bisa memantau atau menjaga kualitas susu segar dengan baik dari hasil perahan para peternak lokal.

Setelah didukung dengan teknologi digital melalui peran MCP, KPBS Pangalengan berharap kepada pemerintah dapat memfasilitasi ketersediaan lahan atau kemudahan akses pakan berkualitas untuk kebutuhan sapi perah dalam rangka peningkatan produksi susu segar.

“Selain program pembibitan, kami juga ingin adanya jaminan ketersediaan pakan yang baik. Hal ini tentunya akan menunjang pasokan bahan baku susu segar ke industri pengolahannya. Jadi, dengan adanya penguatan program kemitraan antara koperasi dengan industri, membawa manfaat besar bagi peningkatan kesejahteraan para peternak sapi perah lokal,” papar Aun.

Baca juga: Menperin apresiasi investasi industri pengolahan susu Rp3,8 triliun

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Cegah korupsi, Kemenperin luncurkan Sistem Informasi Pengawasan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar