Gandhi Sukardi Meninggal Dunia

"Beliau mampu menguasai tujuh bahasa asing."
Jakarta (ANTARA News) - H. Gandhi Sukardi, salah seorang tokoh pers nasional yang berkarir di kantor berita ANTARA, meninggal dunia pada Jumat pada pukul 01.33 WIB di usia 82 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta.

"Beliau sudah lebih seminggu dirawat di rumah sakit, dan mendapat bantuan peralatan medis. Mohon doa, dan mohon kesalahannya dimaafkan," kata Wina Armada, salah seorang putra Gadhi Sukardi yang juga anggota Dewan Pers, kepada ANTARA News, Jumat dinihari.

Gandhi Sukardi juga ayah dari Laksamana Sukardi (mantan Menteri Investasi dan Pembinaan Badan Usaha Milik Negara di era pemerintahan KH Abdurahman Wahid) dan Samudera Sukardi (mantan salah seorang direktur di PT Garuda Indonesia). Namun, hanya Wina Armada yang meneruskan karirnya menjadi wartawan.

Semasa hidupnya Gandhi Sukardi dikenal sebagai wartawan yang polygoth atau berkemampuan lebih dari satu berbahasa secara aktif. "Beliau mampu menguasai tujuh bahasa asing, karena sejak remaja telah berkeliling dunia," kata Wina.

Bahkan, menurut Wina, Gandhi Sukardi semasa remaja mengikuti ajakan seorang pastor untuk berkelana ke Benua Eropa. Salah satu hobinya adalah bermain catur, dan sempat sekolah khusus catur di salah satu negara Eropa.

Kemampuan berbahasa internasional itulah yang membuat Gandhi Sukardi saat menjadi wartawan kantor berita ANTARA sering mendapat penugasan ke luar negeri. Bahkan, ia memberi nama Wina bagi salah seorang putranya lantaran lahir saat dirinya bertugas jurnalistik di ibukota Austria.

Darah wartawan mengalir dalam tubuh Gadhi Sukardi mengikuti jejak ayahnya, Didi Sukardi, yang diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Sukabumi, Jawa Barat.

Setelah pensiun dari kantor berita ANTARA, Gandhi Sukardi tetap rajin menulis. Bahkan, ia tercatat sebagai peraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk kategori orang yang rajin menulis surat pembaca dalam bahasa Inggris di harian The Jakarta Post setiap minggu selama tiga tahun. Oleh karena itu, ia pun dinobatkan sebagai salah seorang empu epistoholik.

Selain itu, Gadhi Sukardi juga menulis beberapa buku, diantaranya Nurani Wartawan Penagih Janji dan Bintang-bintang di Atas Arafah: Kumpulan Sajak yang keduanya diterbitkan Pers Indonesia Merdeka pada 2004. (*)

Pewarta: Priyambodo RH
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar