Gaddafi Cari Jalan Mundur Terhormat

Gaddafi Cari Jalan Mundur Terhormat

Pemimpian Libya Muammar Gaddafi bersama Jurnalis ABC NEWS Christiane Amanpour yang mewancarainya beberapa waktu lalu. (FOTO ANTARA/REUTERS/ABC NEWS/Handout)

Dia telah memulai menjalin kontak dengan negara-negara Afrika dan Arab dalam rangka mencari tempat aman yang membuatnya meninggalkan Libya"
Kairo (ANTARA News) - Dua suratkabar Arab dan stasiun televisi berita Aljazeera, Selasa pagi WIB, melaporkan bahwa pemimpin Libya Muammar Gaddafi tengah mencari kesepakatan yang membuatnya mundur dari kekuasaan, namun tidak ada konfirmasi resmi menyangkut laporan tersebut.

Al Jazeera mewartakan bahwa Gaddafi telah menawari para pemberontak Libya untuk mengadakan sebuah pertemuan parlemen demi meratakan jalan baginya untuk mundur di bawah jaminan-jaminan tertentu.

TV berita ini melaporkan bahwa Gaddafi telah melayangkan  proposal itu kepada dewan interim yang mewakili sebagai besar wilayah timur yang dikuasai oposisi.

Mengutip sumber-sumber di parlemen Libya, Aljazeera mewartakan bahwa Gaddafi mencari jaminan keamanan untuk dirinya dan keluarganya, serta satu ikrar bahwa mereka tidak akan diadili.

Al Jazeera melaporkan bahwa sumber-sumber dari dewan interim itu mengatakan kepada reporternya di Benghazi bahwa tawaran itu ditolak karena tawaran itu akan menjadi jalan keluar terhormat bagi Gaddafi namun akan menyinggung perasaan para korban kezalimannya.

Harian Asharq al-Awsat yang berbasis di London dan harian al-Bayan yang berkantor di Uni Emirat Arab, juga mengutipkan sumber-sumber tak bernama yang menyatakan Gaddafi memang tengah mencari kesepakatan.

Seorang sumber yang dekat dengan dewan interim mengaku kepada Reuters bahwa dia pernah mendengar satu formula tengah diusulkan oleh pihak lain yang menyebutkan Gaddafi menyerahkan kekuasaan kepada ketua parlemen, lalu meninggalkan Libay dengan jaminan uang pada jumlah tertentu.

"Saya telah diberi tahu bahwa masalah uang ini adalah kendala serius dari sudut pandang dewan (interim) nasional," kata sumber ini seraya menyebutkan bahwa informasinya ini berasal dari sebuah sumber yang dekat sekali dengan dewan tersebut.

Essam Gheriani, humas pada dewan interim, membantah, "Tidak ada tawaran itu disampaikan kepada dewan, sepanjang yang saya perhatikan."
 
Mengajak dialog

Jadallah Azous Al-Talhi, salah seorang anggota utama penguasa dan mantan perdana menteri pada 1980an, mengajak para pemimpin pemberontak untuk berdialog, dan ini mengisyaratkan bahwa Gaddafi mungkin telah bersiap untuk mencari kompromi dengan lawan-lawan yang menentang kekuasaannya yang sudah empat dekade itu.

Fakta bahwa televisi negara telah menayangkan ajakan Talhi ini adalah indikasi bahwa pernyataan itu resmi penyataan negara.

Namun dewan itu mengatakan bahwa tidak ada ruang untuk dialog lebih lapang dengan Gaddafi dan setiap pembicaraan harus didasarkan pada basis bahwa dia harus keluar (dari kekuasaan).

Ditanya perihal pidato Talhi tersebut, seorang tokoh pemberontak Ahmed Jabreel berkata kepada : "Talhi adalah teman dekat saya dan dia sangat dihormati di Libya sebagai seorang yang berani menentang Gaddafi.

"Namun kami harus memperjelas semua ini bahwa segala negosiasi harus dilandaskan pada dasar bahwa Gaddafi akan lengser. Tak ada kompromi selain itu."

Asharq al-Awsat, mengutip sumber-sumber terpercaya Libya di Benghazi, mengatakan bahwa Gaddafi telah mengirimkan seorang juru  runding kepada dewan interim pemberontak bahwa dia bersedia mundur namun mesti mendapatkan jaminan keamdaan untuk dirinya sendiri, dan seluruh keluarganya, serta harta kekayaaannya.

Mengutip satu sumber pada lingkar terdalam Gaddafi, Al Bayan melaporkan bahwa pemimpin Libya itu telah mulai mencari tempat aman di luar Libya.

"Dia telah memulai menjalin kontak dengan negara-negara Afrika dan Arab dalam rangka mencari tempat aman yang membuatnya meninggalkan Libya melalui sebuah cara yang sesuai dengan posisinya dan tidak menjatuhkan martabatnya," kata sang sumber.

Dia mengatakan bahwa perpecahan besar dalam angkatan bersenjata Libya telah menyebabkan Gaddafi kehilangan kendalinya di banyak bagian dari negerinya sehingga jatuh ke tangan pemberonta, demikian salah satu cuplikan dari artikel sang sumber di koran Arab itu.

Salah seorang putera Gaddafi, Saadi, mengatakan bahwa Libya akan jatuh ke kubangan perang saudara jika ayahnya diturunkan, lapor televisi Alarabiya, Senin lalu.

"Situasianya sangat berbahaya. Dari perspektif perang saudara, sang pemimpin harus memainkan peran yang amat sangat besar dalam menenangkan Libya dan meyakinkan rakyat untuk duduk bersama," kata Saadi Gaddafi dalam wawancaea dengan televisi Arab itu.

"Jika sesuatu menimpa si pemimpina, siapa yang mengendalikan? Perang saudara akan dimulai," sambungnya. (*)

Reuters/Jafar

Penerjemah:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar