Pekanbaru (ANTARA News) - Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh dijadwalkan bakal meninjau langsung masalah pertambangan yang menghambat produksi minyak di Provinsi Riau.

"Kabarnya disela kunjungan ke Riau, Menteri ESDM juga akan mengumpulkan 11 kontraktor kontrak kerjasama migas untuk membahas masalah produksi minyak," kata Kepala Perwakilan BP Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara, Baris Sitorus, di Pekanbaru, Senin.

Menurut dia, Menteri ESDM akan berada di Pekanbaru pada tanggal 12 dan 13 April 2011. Turut hadir dalam kunjungan itu adalah Dirjen Migas Evita H Legowo dan Kepala BP Migas R Priyono.

"Agenda resmi kedatangan Menteri ESDM adalah untuk membuka pameran Riau Energi Expo," katanya.

Permasalahan di Riau diakui Baris cukup mempengaruhi produksi nasional. Masalah itu menjadi perhatian pemerintah pusat karena mengganggu pencapaian target produksi minyak di 2011 yang ditetapkan dalam APBN sebesar 970.000 barel per hari (bph). Namun, hingga kini rata-rata produksi nasional baru mencapai kisaran 908.000 bph.

Masalah performa produksi minyak itu juga sempat menimbulkan gonjang-ganjing di internal BP Migas, ditandai dengan pengunduran diri Budi Indianto dari jabatan Deputi Operasional.

Salah satu masalah yang menghambat produksi minyak di Riau adalah tumpang tindih antara regulasi kehutanan dan pertambangan. Hal tersebut menghambat proses eksploitasi minyak Kondur Petroleum SA di Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti.

Beroperasinya perusahaan yang berafiliasi dengan Grup Bakrie itu menuai protes karena belum memiliki izin pelepasan kawasan hutan.

Masalah regulasi juga menjadi kendala PT Sumatera Persada Energi (SPE) untuk dapat mengelola blok minyak West Kampar, tepatnya dalam proses pembukaan sumur Pengendalian di Kabupaten Rohul.

Tumpang tindih regulasi pertambangan dan perkebunan telah membuat perusahaan terpaksa menunda jadwal eksploitasi yang sebelumnya ditargetkan pada 1 April.

(F012/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011