BKSDA pasang 59.000 meter power fancing di daerah konflik gajah

BKSDA pasang 59.000 meter power fancing di daerah konflik gajah

Petugas Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh membakar mercon saat berpatroli, memantau dan mengusir kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar yang berkeliaran di permukiman dan perkebunan warga Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime, Bener Meriah, Aceh, Kamis (25/11/2021). (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj)

59.000 meter power fancing itu tidak di satu daerah saja tapi seluruh Aceh yang memiliki intensitas tinggi konflik gajah dengan manusia,
Banda Aceh (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memasang penghalau (barrier) jenis kawat kejut atau power fancing sepanjang 59.000 meter di sejumlah titik yang memiliki intensitas tinggi konflik antara gajah liar dengan manusia.

“59.000 meter power fancing itu tidak di satu daerah saja tapi seluruh Aceh yang memiliki intensitas tinggi konflik gajah dengan manusia,” kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto di Banda Aceh, Jumat.

Dia menjelaskan hingga saat ini konflik gajah liar dengan manusia terus terjadi di sejumlah wilayah Aceh. Beberapa daerah dengan intensitas konflik tinggi seperti Kabupaten Pidie, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Jaya serta beberapa daerah lain.

Baca juga: BKSDA Aceh bersiasat untuk mengatasi konflik gajah dengan manusia

Oleh karena itu, BKSDA terus bersiasat untuk mengatasi konflik gajah sumatera itu dengan manusia dengan beberapa metode seperti pemasangan barrier berupa power fancing atau parit serta pemasangan kalung GPS atau GPS collar.

“Power fancing itu kamk pasang tersebar di beberapa daerah, ada di Aceh Timur, Pidie, Bener Meriah, Aceh Jaya, jadi di tempat-tempat dengan intensitas konflik satwa tinggi,” katanya.

Strategi itu, lanjut dia, kita terapkan sambil terus dinamis melihat ruang gajah liar untuk keluar masuk hutan.

Baca juga: Menyelamatkan gajah dan harimau sumatera dari ancaman jerat

Menurut Agus pemasangan power fancing sudah dilakukan sejak 2014, namun BKSDA Aceh lebih meningkatkan pemasangannya selama dua tahun terakhir, dinilai ampuh sebagai penghalau gajah liar agar tidak ke pemukiman atau perkebunan milik warga.

“Kalau parit ada juga kami buat bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Tapi saat ini kita lebih utamakan pakai power fancing untuk penghalaunya,” kata Agus.

Untuk kalung GPS, kata Agus, pihaknya memasangkan kepada kawanan gajah liar, guna memantau setiap pergerakan kawanan satwa liar dilindungi tersebut ketika mendekati pemukiman atau perkebunan warga.

“Seperti di Bener Meriah ada beberapa kelompok gajah liar, yang  kami pasangi GPS collar itu baru satu kelompok, ke depan akan kami pasang lagi ke kelompok-kelompok gajah liar lain,” kata Agus.

Pewarta: Khalis Surry
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Saat anak yatim habiskan waktu bersama jajaran Korem 011 Lilawangsa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar