Saham Asia naik tipis, tapi kekhawatiran Omicron membuat pasar gelisah

Saham Asia naik tipis, tapi kekhawatiran Omicron membuat pasar gelisah

Seorang wanita memegang payung berjalan di dekat papan elektonik yang menunjukkan indeks Nikkei di sebuah broker di Tokyo, Jepang, Senin (15/2/2021). ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

Hong Kong (ANTARA) - Saham-saham Asia naik tipis dalam perdagangan berombak Kamis pagi, dibantu oleh kenaikan saham real estat China, meskipun kekhawatiran tentang varian baru virus corona Omicron membatasi kenaikan secara regional.

Juga membebani pasar saham adalah pernyataan dari Ketua Fed Jerome Powell yang menegaskan kembali bahwa dia dan sesama pembuat kebijakan akan mempertimbangkan penghentian yang lebih cepat untuk program pembelian obligasi Fed, sebuah langkah yang secara luas dilihat sebagai membuka pintu bagi kenaikan suku bunga lebih awal.

Ini membantu mendukung dolar yang, meskipun suasana hati-hati menguat pada yen, biasanya dilihat sebagai tempat berlindung yang lebih aman daripada greenback.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,2 persen, didorong oleh saham-saham unggulan China yang terangkat 0,25 persen dan Hong Kong naik 0,2 persen.

Indeks pengembang daratan yang tercatat di Hong Kong bertambah 2,0 persen setelah berita Rabu (1/12/2021) malam bahwa pengembang China berencana untuk menjual obligasi di China guna mengumpulkan gabungan 18 miliar yuan (2,83 miliar dolar AS), bukti Beijing sedikit mengurangi ketegangan likuiditas di sektor yang kekurangan uang.

Namun, Nikkei Jepang kehilangan 0,6 persen, dan ketiga indeks saham utama Wall Street turun lebih dari 1,0 persen semalam karena reli global mereda ketika berita tentang varian virus corona Omicron berubah negatif.

Omicron dengan cepat menjadi varian dominan dari virus corona di Afrika Selatan kurang dari empat minggu setelah pertama kali terdeteksi di sana, dan pada Rabu (1/12/2021) Amerika Serikat menjadi negara terbaru yang mengidentifikasi kasus Omicron di dalam perbatasannya.

"Yang dapat dilakukan siapa pun saat ini adalah menunggu setiap judul berita, karena ada serangkaian pertanyaan luar biasa tentang varian baru yang sebagian besar tetap tidak terjawab dan akan tetap tidak terjawab selama berhari-hari atau berminggu-minggu," kata Kyle Rodda, seorang analis pialang IG Markets di Melbourne.

Dia menambahkan bahwa dengan Federal Reserve mengurangi stimulus dan membangun untuk menaikkan suku, "Ini adalah pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ketika pasar belum mengambil perkembangan yang buruk sebagai alasan lain untuk membeli saham mengharapkan peningkatan likuiditas dari The Fed".

Dalam tanda lain dari pelarian ke aset-aset aman, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor lebih lama turun dalam jam perdagangan AS. Imbal hasil obligasi 30-tahun turun ke level 1,740 persen, terendah sejak awal Januari, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun yang jadi acuan turun ke level 1,404 persen - terendah sembilan minggu.

Imbal hasil di ujung terpendek kurva lebih stabil karena kemungkinan Federal Reserve AS akan mempercepat pengurangan pembelian obligasi.

Pada Rabu (1/12/2021), di hari kedua kesaksiannya kepada Kongres, Powell mengatakan The Fed harus siap untuk menanggapi kemungkinan bahwa inflasi tidak akan surut pada paruh kedua tahun depan seperti yang diperkirakan sebagian besar peramal saat ini. Hal ini kemungkinan akan mengarah pada percepatan dalam langkah Fed mengurangi program pembelian asetnya.

"Kami sekarang memperkirakan (komite kebijakan Fed) untuk menyelesaikan pembelian aset pada April 2022 dan mulai menaikkan suku bunga acuan pada Juni 2022," kata analis di CBA dalam catatan pagi.

Indeks dolar stabil, meskipun greenback naik sekitar 0,25 persen menjadi 113 yen mendapatkan kembali sedikit kerugian baru-baru ini, berkat nada hawkish.

Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko merosot di 0,7114 dolar AS tidak jauh dari terendah Selasa (30/11/2021) di 0,7063 dolar AS, terlemah sejak awal November tahun lalu.

Harga minyak juga rebound, meskipun setelah aksi jual yang kuat dalam beberapa hari terakhir karena kekhawatiran varian baru akan membatasi perjalanan.

Minyak mentah berjangka Brent naik 0,9 persen menjadi 69,48 dolar AS per barel, dan minyak mentah berjangka AS naik 0,76 persen menjadi 66,08 dolar AS per barel meskipun masih dalam jangkauan level terendah lebih dari tiga bulan pada Selasa (30/11/2021).

Baca juga: Saham Asia bangkit dari terendah 1 tahun, Omicron dan Fed dalam fokus
Baca juga: Pasar saham Asia "rebound" dari aksi jual yang dipicu varian Omicorn
Baca juga: IHSG awal pekan ditutup melonjak, di tengah anjloknya bursa saham Asia

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Presiden Jokowi buka perdagangan saham 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar