Osama Mati, Taliban Balas Dendam, 80 Tewas

Osama Mati, Taliban Balas Dendam, 80 Tewas

Osama bin Laden dan tangan kanannya Ayman Alzawahiri (Reuters)

Charsadda (ANTARA News/Reuters) - Para pembom bunuh diri yang dikirim Taliban ke Pakistan telah membunuh setidaknya 80 orang di akademi militer Pakistan di barat daya negeri itu, Jumat.

Taliban bersumpah akan melancarkan aksi banjir darah lebih parah lagi untuk menuntut balas atas kematian Osama bin Laden dalam aksi penyergapan AS di Pakistan beberapa hari lalu.

Pemboman besar-besaran pertama di Pakistan sejak kematian Osama pada 2 Mei lalu itu, telah menguatkan pandangan umum selama ini bahwa kematian Osama tidak akan mengendurkan aksi kekerasan karena Alqaeda tidak tersentralisasi dan akan terus mengilhami kelompok-kelompok ekstrem seperti Taliban Pakistan yang berpencar ke seluruh dunia dan dipersatukan oleh ideologi.

"Ini adalah balas dendam pertama untuk kesyahidan (Osama) bin Laden. Akan ada lebih besar lagi," kata juru bicara Taliban Ehsanullah Ehsan, lewat telepon dari sebuah lokasi rahasia, seperti dikutip Reuters.

Bom diledakkan segera setelah matahari menjelang terbenam manakala para kadet militer tengah berjalan keluar dari gerbang akademi militer Frontier Constabulary di kota Charsadda.

"Itu adalah aksi bom bunuh diri," kata Nisar Sarwat, kepala kepolisian Charsadda, sebuah kota perdagangan yang dikelilingi ladang gandum dan jaraknya 135 km dari ibukota Islamabad.

Salah satu pembom bunuh diri diketahui mengendari sepeda motor.  Polisi juga tengah menyelidiki pelaku bom bunuh diri kedua yang juga dilaporkan menggunakan sepeda motor.

Diantara korban tewas termasuk 65 orang kadet. Selain itu terdapat juga 60 orang luka.

Serangan fatal terakhir ke Pakistan terjadi pada 3 April lalu di sebuah kota besar di tengah Pakistan di mana dua pembom bunuh diri Taliban membunuh setidaknya 41 orang di sebuah perkumpulan sufi.

Suasana di luar akademi militer itu dipenuhi oleh lautan darah bercampur dengan topi dan sepatu tentara.  Mereka yang terluka dengan bagian-bagian bajunya ditembus pecahan bom, diangkut ke truk-truk.

"Selagi kami berdiri menunggu bus ada sebuah ledakan kecil. Beberapa saat kemudian, ada ledakan besar yang kedua.  Saya jatuh di jalan dan langsung pingsan," kata prajurit Shafeeq-ur-Rehman, yang lengannya terluka karena ledakan besar itu.(*)

Penerjemah:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Tidak ada WNI yang jadi korban ledakan bom di Filipina

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar