Survei itu patut dipertanyakan. Masak tidak ada perubahan? Dulu zaman Soeharto saya dan para aktivis demokrasi ditangkap, sekarang mana bisa SBY main tangkap atau pemerintah main culik
Jakarta (ANTARA News) - Sekretaris Kabinet Dipo Alam menilai tidak benar hasil survei Indo Barometer yang menyatakan gerakan reformasi politik dan pemerintahan yang telah berjalan selama 13 tahun telah gagal.

"Reformasi tidak gagal. Survei itu keliru dan tidak bermakna," tegas Dipo Alam di Jakarta di Jakarta, Senin.

Dipo mengatakan, sangat keliru membandingkan rezim Orde Baru Soeharto dengan pemerintahan reformasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Duren sama apel tak bisa dibandingkan," katanya mengomentari hasil sebuah survei.

Sebelumnya, Indo Barometer mengumumkan hasil survei nasional bahwa 55,5 persen masyarakat tidak merasakan adanya perubahan kondisi bangsa sebelum dan sesudah reformasi.

"Survei itu patut dipertanyakan. Masak tidak ada perubahan? Dulu zaman Soeharto saya dan para aktivis demokrasi ditangkap, sekarang mana bisa SBY main tangkap atau pemerintah main culik," katanya mempertanyakan.

Dipo meminta Indo Barometer menjelaskan siapa respondennya.

"Jangan-jangan respondennya anak-anak muda yang tidak tahu kondisi zaman Orde Baru," katanya.

Ia mengatakan, Orde Baru adalah zaman di mana kebebasan dan demokrasi diberangus. Undang-Undang Subversi menjadi alat pembungkam pemikiran kritis, aktivis ditangkap, diculik, dan dipenjarakan.

Pers dibreidel jika mengkritik pemerintah dan Soeharto. Korupsi, kolusi dan nepotisme mencengkeram kuat.

"Sekarang UU Subversi tidak ada sementara Singapura dan Malaysia masih memiliki "Internal Security Act". Amerika Serikat saja punya Patriot Act. Kita sebetulnya lebih maju dalam demokrasi," tegasnya.

Ketika ditanyakan mengapa survei Indo Barometer itu tidak bermakna, Dipo mengatakan, karena hasil survei itu mengingkari kenyataan yang telah dicapai oleh bangsa ini pasca runtuhnya Orde Baru.

"Sekarang kekuasaan presiden dibatasi. SBY tidak bisa menjadi presiden seumur hidup. Desentralisasi berjalan, otonomi daerah berjalan. Mana bisa gerakan reformasi dikatakan gagal?" Katanya.

Menurut Dipo, membandingkan SBY dengan Soeharto sangat tidak pas.

"Kalau mau bandingkan dengan masa pemerintahan Habibie, Gus Dur dan Megawati," katanya.

"Kalau masih ada tuntutan reformasi yang masih belum terpenuhi, memang diakui karena masih diperjuangkan. Tapi kalau bilang reformasi gagal, itu tidak benar sama sekali,"demikian Seskab Dipo Alam.
(A025)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2011