Bogor (ANTARA News) - Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan rasa miris sekaligus kegeramannya terhadap terjadinya pembakaran dua anak oleh orang tuanya yang diumpamakannya telah melebihi perilaku binatang. "Harusnya anak kita berikan kasih sayang, tapi malah disiksa. Bahkan teganya membunuh darah dagingnya sendiri. Binatang pun tidak tega membunuh anaknya sendiri," kata Ibu Ani YUdhoyono ketika memberikan sambutan dalam kunjungannya untuk meninjau pusat pemulihan ketergantungan narkoba Rumah Sakit Marzuki Mahdi, di Bogor, Rabu. Ani mengungkapkan kekesalannya karena melihat bahwa orang tua, yaitu pihak yang harus mengayomi anak-anaknya justru menjadi sosok yang lepas kendali dan tidak mampu menahan diri mereka untuk melakukan kekerasan. "Ini sangat memprihatinkan kita. Ini kan masalahnya sepele. Yang berantem suami isteri. Kesalnya kok pada anak," katanya. Sehubungan dengan itu, Ani meminta semua lembaga terkait dan elemen bangsa terutama pasangan suami dan isteri untuk berupaya menghapuskan kekerasan dalam rumah tangga. "Suami dan isteri juga satu sama lain tidak boleh berbuat sewenang-wenang apalagi terhadap putra-putrinya. Ini yang sering kita lihat," katanya. Sementara itu, Menneg Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta mengatakan pelaku kekerasan terhadap anak harus dihukum seberat-beratnya. Ia menilai saat ini hukumannya belum memadai jika dilihat dari efek jera serta pencegahan terhadap kekerasan serupa. "Belum, belum memadai (hukuman yang diberikan kepada pelaku kekerasan terhadap anak)," katanya. Namun ia mengharapkan hukum juga dapat membedakan mana pelaku yang harus dihukum berat dan mana pelaku yang lebih memerlukan bimbingan dan penyuluhan. "Ada juga pelaku yang karena stress. Saya kira kalau dia dalam keadaan normal, dia tidak akan menyiksa anaknya sendiri," katanya. Ia berharap kendati masalah kekerasan menjadi tugas hukum untuk menyelesaikannya, namun perlu ada penyediaan lembaga konseling bagi pasangan suami istri untuk menjauhkan kemungkinan mereka menyiksa anak sendiri. "Karena budaya kita memang kalau orang tua bertengkar yang jadi korban anaknya, dan itu ternyata sekarang sudah meningkat kepada penganiayaan dan berakibat kematian," ujar Meutia. Ia melihat dewasa ini bimbingan dan penyuluhan perkawinan dibutuhkan oleh pasangan-pasangan, terutama dari kelas bawah. Sebelumnya, pada Minggu (1/1), dua balita, yaitu Indah (3) dan Muhammad Lintang Saputra (11 bulan) dibakar oleh ibunya, Yenni alias Een (22) di rumah kontrakan di Jalan Cagak V RT 04/01, Kelurahan Serpong, Tangerang. Yenni membakar kedua anaknya karena kesal kepada suaminya, Saiful yang suka mabuk. Indah yang bersama adiknya dirawat di ruang bakar RSCM, Jakarta, akhirnya menghembuskan napas terakhir Senin (9/1). Sementara itu, seorang bocah berumur delapan tahun, Siti Ihtiatun Soleha atau Tia, disetrika hingga melepuh di kedua kaki dan tangannya oleh ayah kandungnya karena dikira mencuri uang. Peristiwa itu terjadi di Jalan Pulo Besar I, RT 02/11, Kelurahan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (*)

Copyright © ANTARA 2006