counter

Raden Saleh Duta Indonesia di Dresden Jerman 200 Tahun Lalu

London (ANTARA News) - Sebanyak 15 lukisan karya Heri Dono mengenai Raden Saleh dan pemikiran serta pengalamannya digelar dari tanggal 22 Mei hingga 11 September mendatang di Istana Maxen, Jerman.

Pameran yang diselenggarakan Heimat Museum atau museum warisan budaya Maxen mendapat dukung KBRI Berlin, demikian Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Berlin, Purno Widodo kepada Antara London, Selasa.

Dalam acara pembukaan pameran ini dihadiri berbagai tokoh politik, seni dan budaya Jerman serta masyarakat pecinta seni di Dresden dan sekitarnya.

Duta Besar RI untuk Jerman Dr. Eddy Pratomo dalam sambutannya menyatakan bahwa Raden Saleh merupakan Duta Indonesia pertama untuk Jerman.

"Raden Saleh telah meninggalkan warisan berupa ikatan persahabatan dan membangun kerjasama konstrukstif bagi dua bangsa yang terpaut jarak dan budaya," ujarnya.

Raden Saleh meletakkan fondasi hubungan dua bangsa dan juga perdamaian dunia dengan tulisan Jawa yang berarti "Sembahlah Tuhanmu dan Cintai Sesama Manusia" di Masjid Kubah Biru yang dibangunnya di atas tebing, tak jauh dari Istana Maxen.

Masjid Kubah Biru tersebut saat ini menjadi salah satu icon Maxen dan juga daya tarik wisata disana.

Istana Maxen dipilih sebagai tempat penyelenggaraan pameran karena disanalah tempat Raden Saleh pernah tinggal selama beberapa tahun.

Di istana tersebutlah Raden Saleh berinteraksi dengan berbagai seniman, pelukis, penyair, dan musisi elit kala itu, seperti Ludwig Tieck, Robert dan Clara Schumann, Karl Gutzkow, pendongeng Hans Christian Andersen, dan Ottilie von Goethe.

Banyak bangsawan kerap mengunjungi tempat ini untuk menyaksikan karya seni mereka, ujarnya.

Di tempat itu pulalah Raden Saleh berkenalan dengan Raja Sachsen Coburg dan Gotha Ernst II serta istrinya, Alexandrine.

Satu lukisan akrilik berjudul Express yang menggambarkan jeep dengan penumpang yang terlihat tidak nyaman diatasnya merupakan salah satu dari lima belas lukisan yang sangat menarik perhatian tak kurang dari seratus pengunjung Istana Maxen yang terletak sekitar 20 Km dari pusat Kota Dresden, Jerman.

Tokoh dalam lukisan tersebut menggambarkan seorang priyayi Jawa yang merupakan personifikasi Raden Saleh dan kegalauannya berjalan sendirian ditengah bingkai pikiran orientalisme, ketegangan kolonialisme, dan beban mental "inlander" yang menjangkiti warga pribumi yang terjajah pada saat itu.

Hal tersebut yang berusaha ditangkap Heri Dono, seniman kontemporer Indonesia yang sangat sukses saat ini dengan membawa aliran post expressionims dan cubism.

Pameran lukisan bertajuk Homage to Raden Saleh dalam rangka memperingati 200 tahun lahirnya Raden Saleh bertempat di Istana Maxen, Dresden tempat Raden Saleh sempat tinggal dan menghasilkan karya-karya besarnya di Jerman 150 tahun lalu.

Jejak Raden Saleh sebagai pelukis masyhur dari tanah Jawa yang dihormati sangat jelas terlihat di Dresden. Dresden bagi Raden Saleh sangat berperan dalam memberinya inspirasi luar biasa sehingga dirinya berhasil menyelesaikan lukisan-lukisannya dengan cepat dan banyak.

Perpaduan antara Dresden sebagai kota seni budaya dan keindahan panoramanya telah membuatnya semakin kreatif dan betah tinggal beberapa tahun lamanya.

Interaksi Raden Saleh dengan berbagai tokoh terkemuka Jerman, Belanda, Perancis, Denmark bahkan Aljazair pada saat itu dengan tetap membawa identitasnya sebagai warga pribumi yang dipandang eksotis dan sejajar dengan bangsa lain tak pelak menjadikan Raden Saleh sebagai representasi Indonesia di jamannya.

Selain sambutan Pemilik Istana Maxen Herr Peter Flache, Anggota Parlemen Jerman dari Dresden Herr Klaus Breming serta Dubes RI Dr. Eddy Pratomo, dalam acara pembukaan tersebut ditampilkan Tari Legong Keraton Bali dan Topeng Kelono Jawa dari KBRI Berlin.

Dr. Werner Kraus seorang ahli Raden Saleh juga berkesempatan memberikan paparannya kepada pengunjung pameran.

Berbagai brosur dan buku pariwisata Indonesia juga disediakan KBRI Berlin di tempat penyelenggaraan semakin meningkatkan pengetahuan masyarakat Dresden mengenai Indonesia, tempat Raden Saleh berasal. (ZG/K004)

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2011

2 Lukisan karya Raden Saleh direstorasi

Komentar