Semarang (ANTARA News) - Panitia Lokal 42 Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Semarang membekali pengawas dengan kemampuan mendeteksi gejala praktik perjokian dalam pelaksanaan tes tulis.

"Kami tidak akan main-main menyikapi praktik perjokian dalam tes SNMPTN tulis, jika ada yang kedapatan akan ditindak tegas," kata Ketua Panitia Lokal 42 SNMPTN Semarang Agus Wahyudin, di Semarang, Selasa.

Pada pelaksanaan SNMPTN tahun lalu, kata dia, Panitia Lokal 42 SNMPTN Semarang sudah membuktikan kemampuannya mendeteksi gejala praktik perjokian, sampai menelusuri keterlibatan pelaku dalam sindikat perjokian SNMPTN.

Ia menjelaskan pihaknya berhasil menangkap basah beberapa peserta yang dicurigai melakukan kecurangan dengan menggunakan modus yang sama, yakni melalui telepon seluler yang digunakan untuk mengirimkan kunci jawaban.

"Untuk yang perempuan, ponsel ini dihubungkan dengan `headset` yang dipakai di telinga, namun ditutupi jilbab, sementara yang laki-laki mengelabui petugas dengan menyimpan ponsel di celana yang didesain khusus," katanya.

Akan tetapi, kata dia, modus kecurangan semacam itu mampu dideteksi petugas dan pelakunya langsung diamankan untuk dimintai keterangan, setelah ditelusuri ternyata ada sindikat perjokian yang mengkoordinasi mereka.

Modus kecurangan dalam SNMPTN tahun lalu itu berhasil dibongkar berkat kejelian pengawas, kata dia, karena itu pengawas SNMPTN tahun ini juga dibekali kemampuan serupa untuk mendeteksi gejala praktik perjokian.

"Jangan main-main, peserta yang terbukti melakukan berbagai tindak kecurangan, termasuk menggunakan joki akan langsung dinyatakan gugur," kata Agus yang juga Pembantu Rektor I Universitas Negeri Semarang itu.

Terlebih lagi, kata dia, kebanyakan pengawas SNMPTN tahun ini merupakan pengawas SNMPTN tahun lalu sehingga pengalaman dan kemampuannya dalam mengawasi jalannya tes seleksi masuk PTN itu sudah teruji.

"Mekanisme pengawasan SNMPTN tulis pada 31 Mei-1 Juni 2011 nanti secara umum tetap sama dengan pengawasan tahun lalu. Yang jelas, kami ingatkan jangan main-main dan melakukan kecurangan dalam tes SNMPTN nanti," tegas Agus.

Rektor Universitas Diponegoro Semarang Prof Sudharto P Hadi juga mengharapkan pelaksanaan SNMPTN tulis tidak diwarnai tindakan kecurangan, termasuk praktik perjokian karena modal dasar pendidikan adalah kejujuran.

"Kejujuran ini yang menjadi landasan kuat pendidikan, harus diawali dengan jujur. Kalau mereka melakukan kecurangan untuk masuk PTN, nantinya mereka juga akan berlaku tidak jujur dalam proses selanjutnya," katanya.(*)

(U.KR-ZLS/E005)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011