Berlin (ANTARA News/AFP) - Penyergapan atas kendaraan lapis baja di Afghanistan utara menewaskan seorang tentara Jerman dan melukai lima lagi pada Kamis, kata pernyataan tentara.

Kendaraan angkut berlapis baja itu dihantam peledak rakitan di luar kota Kunduz, lima hari setelah peboman jibaku merenggut nyawa dua tentara Jerman dan kepala polisi daerah tersebut.

Jerman memiliki sekitar 5.000 tentara di Afghanistan di pasukan pimpinan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dalam tugas, yang jajak pendapat tunjukkan sangat tidak disukai rakyatnya.

Menteri Pertahanan Thomas de Maiziere menyatakan "terkejut" oleh kematian itu, tapi mengatakan Jerman tetap bertekad untuk keamanan di Afghanistan.

"Anda tidak dapat menghasilkan kekerasan," katanya dalam pidato di Dresden.

"Jika kita pergi sekarang, itu akan merusak kepercayaan dan kepercayaan diri rakyat Afghanistan dan Taliban akan dimudahkan. ​​Kita tidak akan goyah dalam keterlibatan tersebut dan akan terus memenuhi amanat kami," katanya.

Parlemen Jerman pada Januari menyetujui perpanjangan 12 bulan tugas di Afghanistan, tapi dengan syarat pertama kali bahwa tentara negara itu mulai pulang sejak ahir tahun ini jika keamanan memungkinkan.

Sekitar 5.000 tentara Jerman bertugas di Afghanistan sebagai bagian dari 140.000 serdadu NATO pimpinan Amerika Serikat, yang tidak disukai di kalangan rakyat Jerman.

Jerman, anggota NATO, adalah penyumbang ketiga terbesar pasukan untuk Afghanistan setelah Amerika Serikat dan Inggris, dengan sekitar 4.400 tentara ditempatkan di utara, yang semakin bergolak di negeri terkoyak perang itu.

Berlin ingin mulai memulangkan tentaranya pada 2011, setujuan dengan Washington, tapi belum menetapkan tanggal bagi penarikan itu.

Tugas itu ditentang sebagian besar pemilih Jerman, seperti ditunjukkan jajak pendapat.

Tapi, parlemen pada Februari menyetujui perpanjangan masa penggelaran itu dan pengiriman 850 tentara tambahan.

Pada akhir Juni 2010, Menteri Pertahanan Karl-Theodor zu Guttenberg memperingatkan bangsanya bahwa mereka menghadapi "musim panas keras" di Afghanistan dalam memerangi Taliban.

Mengatur tanggal akhir penarikan pasukan asing dari Afghanistan akan bermain dengan irama pejuang, kata menteri pertahanan Jerman, yang memperingatkan tentang "musim panas keras".

"Hal paling kurang berguna bagi kita -- baik di dalam negeri maupun sebagai sekutu-- adalah menetapkan tanggal akhir kepulangan," kata Karl-Theodor zu Guttenberg kepada "Financial Times" dalam wawancara.

Tanggapan zu Guttenberg pada kunjungan ke London itu muncul setelah Perdana Menteri David Cameron pada pekan sebelumnya menyatakan ingin memulangkan 9.500 tentara Inggris dari Afghanistan dalam lima tahun.

Negara lain, yang mencakup 46 negara dengan 140.000 tentara dipimpin Amerika Serikat, termasuk Kanada, Belanda dan Polandia menyatakan ingin pasukan mereka pulang dalam dua tahun mendatang.

Lonjakan jumlah tentara NATO tewas adalah berita tak disukai di ibu kota Barat, tempat pemimpin politik berada di bawah peningkatan tekanan dari pemilihnya, yang tak mau menerima harga untuk perang di tempat jauh dan tampak tiada akhir itu.

Taliban, yang memerintah sejak 1996, melancarkan perlawanan sesudah digulingkan dari kekuasaan oleh serbuan pimpinan Amerika Serikat pada 2001.

Serbuan itu dilakukan sesudah Taliban menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, yang Amerika Serikat tuduh menjadi otak serangan atas negara adidaya itu pada 11 September tahun tersebut, yang menewaskan sekitar 3.000 orang.(*)
(Uu.B002/Z002)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011