Solo (ANTARA News) - Perdagangan Indonesia ke Swiss sampai sekarang masih defisit hingga Rp2 triliun per tahun, padahal peluang yang ada di negara tersebut masih terbuka lebar untuk dagangan asal Indonesia.

"Peluang usaha di negara Swiss untuk menerima barang-barang dari Indonesia sebenarnya masih terbuka lebar, tetapi peluang itu kurang dimanfaatkan oleh para pengusaha kita," kata Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo, seusai diterima Wali Kota Surakarta Joko Widodo di Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Surakarta, Jumat.

Di Swiss juga sering diadakan pameran-pameran produk unggulan peserta asal dari luar negeri - termasuk Indonesia - yang diundang ikut dalam pameran tersebut.

"Pameran-pameran itu biasanya produk-produk UKM. Kami ke sini ini juga menawarkan ini dan kenyataannya Pak Wali sangat antusias dan lima pameran yang kami tawarkan semua diambil," kata Dubes Djoko.

Peluang bisnis di Swiss yang bisa dilakukan oleh para pengusaha di Solo dan sekitar di antaranya pengiriman ikan tawar seperti ikan lele, buah-buhan seperti buah manggis, garmen dan mebel.

"Silahkan bagi para pengusaha di Solo kalau mau mencoba berusaha di Swiss kami akan membantu sepenuhnya," ujar dia.

Kebutuhan ikan di Swiss mencapai 53 ribu ton per tahun dan ini hanya bisa dipenuhi sekitar tiga juta ton per tahun untuk dalam negeri, sedangkan kekurangannya didatangkan dari berbagai negara. Sekarang ini pemasok ikan ke Swiss paling besar berasal dari Vietnam.

Harga ikan di negara ini cukup mahal. Dicontohkan  Dubes Djoko, ikan lele dihargai antara Rp40 ribu sampai Rp65 ribu per ekor, sementara di sini hanya Rp12 ribu per kilogram, begitu juga untuk buah manggis di sana laku keras.

"Silahkan para pengusaha di sini kalau mau kirim ikan lele ke Swiss atau buah manggis kami siap membantunya. Ini merupakan bisnis yang menggiurkan, tetapi kalau mereka mau bisnis yaa harus diatur dengan baik," kata dia.

Perekonomian di Swiss juga 95 persen didukung oleh usaha kecil menengah (UKM).

Itu sebabnya tidak mengherankan bila setiap tahun di sana diadakan pameran produk-produk UKM yang mengundang berbagai negera termasuk Indonesia.

Sementara itu Wali Kota Surakarta Joko Widodo mengatakan pihaknya akan mengirimkan para pengusaha yang ada di daerahnya untuk mengikuti pameran di Swiss.

"Kami siap untuk pameran produk-produk UKM, apa yang ditawarkan itu semua akan kami ambil," ujar dia.

Melalui pameran ini diharapkan akan bisa mendongkrak perdagangan Indonesia di Swiss, karena selama ini promosi barang-barang di negara tersebut masih sangat jarang. Pameran dagang ini juga sekaligus menjadi ajang promosi pariwisata.

Untuk nilai ekspor garmen dan mebel dari Solo tahun 2007 mencapai 112 ribu dolar Amerika Serikat (AS), tahun 2008 naik menjadi 114 ribu dolar AS. Pada tahun 2009 sempat turun tinggal 103 ribu dolar AS lalu di tahun 2010 naik lagi menjadi 123 ribu dolar AS.

(ANTARA)

Editor: Ella Syafputri
Copyright © ANTARA 2011