Mengenal "husband stitch" yang dialami ibu pasca persalinan

Mengenal "husband stitch" yang dialami ibu pasca persalinan

Ilustrasi. (Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Jagad maya Twitter diramaikan oleh cuitan soal husband stitch, jahitan tambahan yang dialami wanita pasca persalinan.

Mengutip Medical News Today pada Jumat, husband stitch atau yang secara harafiah diartikan sebagai "jahitan suami", mengacu pada jahitan tambahan yang mungkin diterima beberapa wanita setelah persalinan pervaginam menyebabkan perineum mereka terpotong atau robek.

Jahitan ini melampaui apa yang diperlukan untuk memperbaiki robekan alami saat melahirkan atau luka dari episiotomi. Tujuan dari jahitan suami adalah untuk mengencangkan vagina ke kondisi sebelum melahirkan.

"Penting untuk dicatat bahwa husband stitch bukanlah praktik yang diterima atau prosedur medis yang disetujui. Para peneliti telah mengumpulkan sebagian besar bukti tentang jahitan suami dari kesaksian wanita yang memilikinya dan dari petugas kesehatan yang telah menyaksikannya," kata perawat Kathleen Davis, FNP dan dokter obstetri dan ginekologi Valinda Nwadike.

Baca juga: Tujuh makanan untuk hubungan suami istri lebih baik

Baca juga: Lima tanda penyakit yang wajib diperhatikan wanita


Asal usul dari husband stitch atau operasi pengencangan vagina, diketahui ada sejak pertengahan 1950-an.

Saat memperbaiki robekan persalinan pervaginam atau episiotomi, dokter kandungan akan mengencangkan pintu masuk vagina wanita dengan menambahkan jahitan tambahan.

Dokter menyatakan bahwa prosedur ini dapat meningkatkan kesejahteraan wanita dengan menjaga ukuran dan bentuk vagina, baik untuk meningkatkan frekuensi orgasme atau untuk meningkatkan kenikmatan pria dalam hubungan seksual.

Jalan lahir vagina adalah otot yang dapat melebar (meregangkan) untuk memungkinkan bayi melewatinya untuk melahirkan. Terkadang, lubang vagina mungkin tidak cukup lebar untuk menampung kepala bayi. Daripada mempertaruhkan robekan vagina yang serius, dokter atau bidan dapat melakukan episiotomi.

Episiotomi memperluas lubang vagina, memungkinkan bayi untuk melewatinya dengan lebih mudah.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penggunaan rutin episiotomi tidak dianjurkan untuk wanita yang menjalani persalinan pervaginam spontan.

Namun, dokter atau bidan mungkin melakukan episiotomi jika terjadi komplikasi selama persalinan.

Persalinan normal dapat menyebabkan robekan pada vagina, dan robekan ini terkadang meluas ke rektum. Jahitan mungkin diperlukan dalam beberapa kasus. Jahitan tidak boleh meluas ke lubang vagina.

Husband stitch bukanlah prosedur medis resmi. Tidak ada penelitian atau dokumen medis untuk memverifikasi seberapa sering prosedur dilakukan atau berapa banyak wanita yang menerima jahitan suami.

Sebagian besar informasi mengenai praktik kontroversial tersebut ada di forum media sosial atau berasal dari akun langsung wanita yang mengaku telah menerima jahitan suami tanpa persetujuan mereka.

Beberapa wanita melaporkan bahwa mereka telah menerima jahitan ini tanpa persetujuan mereka.

Menurut WHO, ketika penyedia layanan kesehatan melakukan episiotomi, anestesi lokal yang efektif dan persetujuan ibu sangat penting.

Namun, seorang wanita mungkin tidak mengetahui seberapa luas perbaikan perineumnya sampai dia mulai mengalami rasa sakit atau masalah selama pemulihan pascapersalinannya.

Bicara soal keuntungan yang didapatkan wanita dari husband stitch, tulisan dari Medical News Today mengatakan, "Tidak (ada keuntungan bagi wanita). Vagina adalah otot yang mengembang selama kelahiran tetapi pada akhirnya akan kembali ke keadaan sebelum melahirkan."

"Jika seorang wanita mencurigai bahwa dia memiliki jahitan suami, dia harus mendiskusikan kekhawatirannya dengan dokter atau bidan atau orang yang dipercaya. Profesional medis dinyatakan bersalah jika mereka melakukan jahitan ekstra ini tanpa persetujuan wanita tersebut," katanya.

Baca juga: Gangguan prostat bisa pengaruhi kehidupan seksual pria

Baca juga: Persalinan normal pengaruhi kepuasan seksual?

Baca juga: Pendidikan kesehatan reproduksi dinilai mutlak cegah perkawinan anak

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar