"Pak Masri sudah meminta maaf atas ucapannya itu," tutur Wakapolres.
Palu (ANTARA News) - Massa diperkirakan berjumlah lebih 1000 orang Senin mengamuk dan merusak Gedung DPRD Kabupaten Tojo-Unauna (Touna) di Provinsi Sulteng, menyusul kekesalan mereka atas ucapan ketua dewan setempat yang dinilai telah menghina keluarga besar KH Amien Lasawedi (alm), ulama kharismatik di daerah itu. Informasi diperoleh ANTARA dari Ampana (ibukota Kabupaten Touna) menyebutkan, insiden itu berawal ketika massa asal puluhan desa/kelurahan pada siang hari mendatangi Gedung DPRD di Ampana untuk meminta ketua dewan H. Masri Latinampa mengklarifikasi ucapannya tersebut. Karena kesal tak juga ditemui ketua dewan, para demonstran mulai melempari gedung wakil rakyat tersebut dengan menggunakan benda keras. Aksi ini terus membesar menyusul arus massa terus berdatangan dan bergabungan dengan mereka yang sudah duluan tiba di lokasi demonstrasi. Mereka lalu ramai-ramai memasuki gedung dewan dan merusak semua perangkat kerja, termasuk yang ada di ruang kerja ketua DPRD. Polres Touna ketika itu tak mampu menghentikan tindakan anarkis ini, dikarenakan jumlah personilnya sangat terbatas dibanding jumlah massa yang terus berdatangan. Wakapolres Touna AKP Nanang Junaidi yang dikonfirmasi ANTARA via ponselnya di Ampana membenarkan terjadinya aksi unjuk rasa berbuntut ke tindakan pengrusakan itu. "Awalnya aksi ini berlangsung damai, namun begitu cepat berubah menjadi tindakan anarkis," tuturnya. Ia menambahkan pihaknya tak mampu menguasai keadaan karena jumlah personil polisi hanya 200-an orang dibanding massa yang mencapai ribuan orang. Aksi tersebut baru dapat dihentikan sore hari setelah polisi menjemput H. Abdullah Lasawedi, anak dari almarhum KH Amien Lasawedi, di desa pinggiran Ampana dan diminta untuk mendamaikan massa yang marah besar. Menjawab pertanyaan, Wakapolres Nanang mengatakan pemicu insiden itu akibat ucapan Masri Latinampa, Ketua DPRD Touna dan dan juga Ketua DPC Partai Golkar setempat, saat berkampanye pertengahan pekan lalu di desa Longge, kecamatan Ampana Tete, untuk memenangkan Prof Aminuddin Ponulele (Gubernur Sulteng/Ketua DPD Partai Golkar Sulteng) dalam pilkada provinsi 16 Januari 2006. "Ada bagian dari ucapan Pak Masri yang dinilai menyinggung perasaan keluarga besar KH Amien Lasawedi dan bahasa itu lalu menyebar dari mulut ke mulut," tuturnya. Keluarga besar KH Amien Lasawedi (murid pertama pendiri ormas Alkhaeraat Sayed Idrus bin Salim Aldjufrie/Guru Tua) yang berada di Ampana merupakan pendukung fanatik pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulteng, HB Paliudju-Achmad Yahya. Wakapolres Nanang juga mengatakan, pihaknya sudah berhasil memediasi pertemuan antara keluarga besar KH Amien Lasawedi dengan Masri Latinampa. "Pak Masri sudah meminta maaf atas ucapannya itu," tutur Wakapolres. Namun polisi masih melakukan penjagaan ketat Gedung DPRD Touna dan rumah kediaman Masri Latinampa, guna mencegah terjadinya kembali hal tak diinginkan. Hingga berita ini diturunkan belum ada seorang pun ditangkap sehubungan dengan peristiwa tersebut. Kabupaten Touna adalah pecahan dari kabupaten Poso dan menjadi daerah otonom sejak tahun 2003. Sebagian daerah ini sempat porak-poranda sebagai imbas dari kerusuhan bernuansa SARA yang melanda Kabupaten Poso pada tahun 2000-2001.(*)

Editor: Heru Purwanto
Copyright © ANTARA 2006