Jakarta (ANTARA News) - Laporan dalam kasus pada manusia dan hasil kajian laboratorium serta pada binatang memperlihatkan ekstrak biji anggur diduga bermanfaat untuk mengobati penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.

Dengan membatasi oksidasi lipid, polifenol pada biji anggur diduga mengurangi risiko penyakit jantung, antara lain dengan mencegah agregasi trombosit dan mengurangi radang.

Namun meskipun kajian semacam itu menjanjikan, penelitian lebih lanjut termasuk studi jangka panjang pada manusia diperlukan untuk mengkonfirmasi semua temuan yang ada.

Kini para ilmuwan di Mount Sinai School of Medicine telah mendapati bahwa polifenol biji anggur --anti-oksidan alamiah-- diduga membantu mencegah perkembangan atau penundaan perkembangan penyakit Alzheimer`s.

Penelitian itu, yang dipimpin oleh Guilio Pasinetti, disiarkan secara "daring" (dalam jaringan) pada Jumat (15/7) di Journal of Alzheimer`s Disease, yang menyebabkan perubahan otak sehingga secara bertahap bertambah parah.

Itu adalah studi pertama yang menilai kemampuan polifenol yang diambil dari anggur guna mencegah perkembangan bentuk peptide amyloid (A) tertentu, zat di otak yang sudah lama diketahui menyebabkan neurotoksisitas yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer`s, demikian laporan kantor berita China, Xinhua, yang dipantau ANTARA, Sabtu.

Melalui kemitraan dengan satu tim di University of Minnesota, Pasinetti dan rekannya memberikan ekstrak polifenol biji anggur kepada tikus yang secara genetika dipastikan akan mengembangkan penurunan memori dan neurotoksin yang serupa dengan yang ditemukan pada penyakit Alzheimer`s.

Mereka mendapati bahwa isi otak A*56, bentuk A tertentu yang yang sebelumnya terlibat dalam peningkatan hilangnya ingatan pada penyakit Alzheimer`s, pada dasarnya berkurang setelah pengobatan.

Berbagai studi sebelumnya menunjukkan peningkatan konsumsi polifenol yang dibuat dari anggur, yang isinya, misalnya, sangat banyak pada anggura merah, mungkin melindungi orang dari penurunan daya kognitif pada penderita Alzheimer`s. Temuan baru itu mempertegas semua teori yang ada.

"Karena polifenol yang muncul secara alamiah biasanya tersedia secara komersial dan memiliki peristiwa yang merugikan tapi tak besar bahkan setelah masa pengobatan lama, temuan baru ini menyimpan janji besar sebagai metode pencegahan atau pengobatan. Temuan baru tersebut sedang diuji-coba pada berbagai studi pada pasien penyakis Alzheimer`s," kata Pasinetti.

Pada penyakit Alzheimer`s, sel otak menurun dan mati, sehingga mengakibatkan kemerosotan fungsi memori dan mental.(*)
(T.C003/A011)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011