Singapura (ANTARA) - Harga minyak naik di perdagangan Asia pada Senin pagi, menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun di tengah kekhawatiran bahwa kemungkinan invasi Ukraina oleh Rusia dapat memicu sanksi dari AS dan Eropa dan mengganggu ekspor energi dari produsen utama dunia.

Minyak mentah berjangka Brent berada diperdagangkan di 95,73 dolar AS per barel pada pukul 01.09 GMT, melonjak 1,29 dolar AS atau 1,4 persen, setelah sebelumnya mencapai tertinggi intraday di 95,91 dolar AS.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat 1,49 dolar AS atau 1,6 persen, menjadi diperdagangkan di 94,59 dolar AS per barel, melayang di dekat tertinggi sesi di 94,92 dolar AS.

Komentar dari Amerika Serikat tentang serangan segera oleh Rusia di Ukraina telah mengguncang pasar keuangan global.

Rusia dapat menyerang Ukraina kapan saja dan mungkin membuat dalih mengejutkan untuk melakukan serangan, kata Amerika Serikat, Minggu (13/2/2022).

"Jika ... pergerakan pasukan terjadi, minyak mentah Brent tidak akan mengalami kesulitan reli di atas level 100 dolar AS," kata analis OANDA Edward Moya dalam sebuah catatan.

"Harga minyak akan tetap sangat fluktuatif dan sensitif terhadap pembaruan tambahan mengenai situasi Ukraina."

Investor juga mengamati pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

Namun, seorang pejabat senior keamanan Iran mengatakan pada Senin bahwa kemajuan dalam pembicaraan menjadi "lebih sulit".

Di Amerika Serikat, harga minyak yang kuat mendorong perusahaan energi untuk meningkatkan produksi sehingga mereka menambahkan rig minyak terbanyak dalam empat tahun pekan lalu, perusahaan jasa energi Baker Hughes Co mengatakan pada Jumat (11/2/2022).

Baca juga: Minyak sedikit melemah, meski kekhawatiran pasokan masih dominan

Baca juga: Menkeu Prancis: Pasar energi Eropa harus ditingkatkan

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2022