Jakarta (ANTARA) - Universal Music Group mengatakan Selasa bahwa mereka menghentikan semua operasi di Rusia dan menutup kantornya menambah semakin banyak perusahaan yang memprotes invasi Rusia di Ukraina.

Keputusan perusahaan musik terbesar di dunia itu menyusul pengumuman minggu lalu oleh Spotify bahwa mereka akan menutup kantornya di Rusia sebagai tanggapan serangan Rusia terhadap Ukraina.

"Kami mendesak diakhirinya kekerasan di Ukraina sesegera mungkin," kata Universal Music dalam pernyataannya seperti dilansir dari Reuters, Rabu.

Baca juga: Spotify tutup kantornya di Rusia

Lebih lanjut, Universal Music mengumumkan akan mendukung para pengungsi yang menjadi korban atas konflik dua negara itu.

Dukungan yang diberikan di antaranya logistik dan bantuan keperluan yang dibutuhkan oleh para korban.

"Kami mematuhi sanksi internasional dan, bersama dengan karyawan dan artis kami, kami bekerja dengan kelompok-kelompok dari berbagai negara (termasuk AS, Inggris, Polandia, Slovakia, Jerman, Republik Ceko, dan Hongaria) mendukung upaya bantuan kemanusiaan untuk membawa bantuan mendesak kepada para pengungsi di wilayah tersebut," kata Universal Music.

Tentunya penutupan layanan dan operasi Universal Music di Rusia sangat berdampak mengingat Rusia merupakan salah satu pasar yang berkembang dan menjanjikan untuk industri musik global.

Hal itu terlihat dengan layanan streaming seperti Apple Music dan Spotify menarik jutaan pelanggan di tempat yang dulu didominasi oleh pembajakan.

Rusia menempati peringkat di antara 20 pasar global teratas, menurut Federasi Internasional Industri Fonografi tercatat penjualan musik di Rusia mencapai 199 juta dolar AS pada 2020, dengan tingkat pertumbuhan 30 persen.

Baca juga: BTS keluar dari Columbia Records untuk gabung ke Universal Music Group

Baca juga: Aerosmith dan Universal Music Group jalin kerja sama baru

Baca juga: Spotify dan Universal Music Group umumkan perjanjian lisensi

Penerjemah: Livia Kristianti
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2022