Semarang (ANTARA News) - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Tengah Komisaris Besar Djihartono menyatakan, kejiwaan dan rekam jejak setiap anggota Polri akan diperiksa sebagai antisipasi munculnya tindak kekerasan oleh yang bersangkutan.

"Tiap kepala satuan wilayah akan melakukan hal tersebut terutama pada anggota polri yang menduduki jabatan," kata Djihartono di Semarang, Senin, menanggapi kasus Wakil Kepala Kepolisian Sektor Jatinom Kabupaten Klaten Inspektur Satu Marsono yang mengamuk hingga menewaskan satu orang dan lima lainnya terluka.

Ia mengatakan, proses perekrutan anggota polri yang dilaksanakan saat ini telah sesuai dengan prosedur tetap sehingga tidak bisa diubah tanpa pertimbangan secara matang.

"Kasus Wakapolsek Jatinom ini akan menjadi masukan proses perekrutan anggota polri pada masa mendatang," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini yang bersangkutan berada di ruang isolasi Rumah Sakit Jiwa Daerah Klaten dengan mendapat pengamanan sejumlah anggota kepolisian setempat guna menjalani proses pemeriksaan kejiwaan oleh psikiater.

Menurut dia, hasil pemeriksaan kejiwaan yang bersangkutan yang digunakan sebagai pertimbangan pengambilan langkah selanjutnya baru dapat diketahui antara 10-15 hari ke depan.

"Dari hasil pemeriksaan kejiwaan tersebut akan diketahui penyebab dan faktor-faktor yang mendorong pelaku melakukan kekerasan," katanya.

Ketua Indonesia Police Watch Daerah Jawa Tengah Untung Budiarso berpendapat, lembaga Polri perlu melakukan penelusuran apakah yang bersangkutan dalam kondisi sakit saat melakukan kekerasan tersebut.

"Selanjutnya lembaga polri juga segera melakukan upaya-upaya pertolongan dalam bentuk pendampingan terhadap yang bersangkutan sehingga motif pelaku melakukan kekerasan dapat terungkap dengan jelas," ujarnya.

Wakil Kepala Kepolisian Sektor Jatinom Kabupaten Klaten Inspektur Satu Marsono, Minggu (11/12) malam, mengamuk di lingkungan tempat tinggalnya hingga menyebabkan satu orang tewas dan lima terluka.

Salah seorang warga Dusun Karang Duwet, Desa Krajan, Kecamatan Jatinom, Sapto, yang juga korban luka dalam kejadian itu, mengatakan, peristiwa tersebut ketika pelaku baru saja pulang dari Markas Kepolisian Sektor Jatinom sekitar pukul 20.00 WIB.

"Pelaku pulang dengan berjalan kaki dari kantornya yang hanya berjarak sekitar dua kilometer. Sesampainya di lingkungan sekitar rumahnya, ia tiba-tiba mengamuk dan berteriak-teriak. Semua orang ditantang. Tetangga yang mencoba melerai pun dihajarnya hingga terluka," ungkapnya.

Peristiwa tersebut mengakibatkan lima orang terluka serta seorang lainnya yakni Yoto Wiratmo (85) yang tidak lain adalah ayah kandung pelaku, tewas.

(KR-WSN/M029)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011