Jakarta (ANTARA News) - PT XL Axiata mengklaim pengalihan pengelolaan layanan jaringan (managed network services) jaringan 2G/3G XL kepada Huawei Tech Investment bisa menghemat beban perusahaan hingga 150 juta dolar AS atau sekitar Rp1,35 triliun dalam jangka waktu tujuh tahun ke depan.

"Melalui program `managed services` tersebut akan terjadi penghematan beban pada biaya operasi (opex) dan belanja modal (capex)," kata Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi, di Jakarta, Rabu.

Sebelumnya, perseroan memutuskan mengalihkan pengelolaan jaringan 2G/3G XL termasuk Network Operations Center (NOC), Field of Operations (FOP), Network Performance Management (NPM) dan Spare Parts Management Service kepada Huawei.

Menurut Hasnul, langkah "Managed Network Services" yang ditempuh ini agar XL bisa lebih fokus pada bisnis inti yaitu penyediaan layanan.

"Dengan lebih fokus pada bidang masing-masing sesuai kompetensi, kami berharap keputusan bisa menjawab tantangan industri di masa depan, sekaligus mendapatkan jaminan kualitas jaringan yang sangat vital untuk menjamin kelangsungan bisnis XL," katanya.

Dalam kerjasama jangka panjang itu juga disertai pengalihan sekitar 1.200 karyawan XL menjadi karyawan Huawei Indonesia. Untuk program pengalihan 1.200 karyawan tersebut pihaknya sudah menyiapkan dana sebesar Rp200 miliar.

Sementara itu Director Technology, Content, and New Business XL Dian Siswarini menegaskan "managed services" tersebut tidak akan membahayakan perseroran karena strategi operasi, pemilihan teknologi, perencanaan dan disain serta "key person" masih berada di tangan XL.

"Intinya otak dan hati dari jaringan masih di XL, tangan dan kaki di-`outsource`. Kita juga memastikan masalah fleksibilitas dalam kontrak dengan mitra tengah membentuk organisasi khusus yang menangani rekanan`managed services," katanya.

Sementara itu Deputy Director of Customer Solutions Huawei, Dani Ristandi mengungkapkan model bisnis peyelenggara jaringan di masa depan akan bergeser, seiring lonjakan volume konten digital dan menjamurnya piranti bergerak seperti smartphone dan komputer jinjing.

"Ini akan membuat pelanggan fokus memilih layanan jaringan yang mengedepankan kecepatan, kualitas, fleksibilitas, dan kemudahan dalam mengakses internet. Pada 2020 lonjakan trafik data bisa mencapai seribu kali lipat dibanding saat ini," ungkap Dani.


Efisiensi

Persaingan sengit dan melonjaknya volume trafik akan memaksa operator penyelenggara jaringan lebih memikirkan efisiensi antara lain melepas urusan perawatan jaringan ke pihak ketiga.

"Tren managed services ini tak bisa dihindari. Operator Tri, XL, dan Axis telah melakukannya. Sebentar lagi, operator besar lainnya akan mengikuti," ujarnya.

Sementara itu praktisi telematika Teguh Prasetya berpendapat "managed service" merupakan keharusan agar lebih efisien mengelola "low cost leadership" dan dapat bersaing di masa depan, serta tetap fokus pada produk, penjualan dan pemasaran sebagai "core value" operator.

Namun menurut Teguh, yang perlu diperhatikan adalah implementasinya tidak kebablasan dalam "cut cost", sehingga ujungnya untuk jangka pendek hanya sebagai alat bertahan, sedangkan untuk bisa menjadi makin tinggi biaya dan tidak bisa kembali lagi (no way to return).

"Operator tetap perlu memegang `key person` atau `strategic operational` di dalam perusahaan bukan di outsource-kan. Contohnya, untuk `quality assurance dan optimization," katanya.

Praktisi telematika lainnya, Raherman Rahanan contoh sukses "managed services" terjadi AirTel di India dan Afrika.

"Saya prediksi Telkomsel akan menyusul XL melakukan hal ini jika melihat implementasi jaringan 3G dan Home Location Register (HLR) Next Generation Network (NGN) dengan Huawei. Telkomsel tidak akan lagi melakukannya per cluster, tetapi nasional," katanya.
(R017)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2012