Saya harap mudah-mudahan apa yang didapat pelatihan ini bisa diimplementasikan sebaik mungkin.
Garut (ANTARA) - TNI Yonif Raider 303/Setia Sampai Mati memberikan pelatihan dan pendidikan terhadap 2.861 mahasiswa Universitas Garut (Uniga) di Kabupaten Garut, Jawa Barat agar memiliki wawasan kebangsaan dan bela negara dalam rangka menjaga kecintaan pada Republik Indonesia.

"Saya harap mudah-mudahan apa yang didapat pelatihan ini bisa diimplementasikan sebaik mungkin, sehingga memberikan pengabdian yang terbaik bagi bangsa dan negara," kata Pelaksana Tugas Asisten Daerah 1 Bidang Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Garut Ganda Permana saat pelaksanaan upacara penutupan Pendidikan Bela Negara, di Alun-alun, Kabupaten Garut, Kamis.

Ia menuturkan Pemkab Garut mengapresiasi adanya kegiatan Pendidikan Bela Negara yang dilakukan oleh universitas ternama di Garut, karena dengan kegiatan tersebut bisa membentuk mahasiswa berwawasan kebangsaan agar lebih mengokohkan mahasiswa dalam berbangsa dan bernegara.

"Mengapresiasi kegiatan ini, karena dengan kegiatan ini telah terbentuk tadi sebanyak 2.861 orang, setidaknya mempunyai wawasan kebangsaan, setidaknya bisa mengokohkan berbangsa dan bernegara," katanya pula.

Rektor Uniga Abdusy Syakur Amin menyatakan pelaksanaan Pendidikan Bela Negara merupakan amanat dari pendiri dan perintis Uniga yang diharapkan mampu meningkatkan rasa cinta pada Tanah Air, nilai-nilai budaya, dan kearifan lokal, serta siap membela bangsa dan negara, serta menjunjung tinggi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

"Hal ini menjadi warisan bagi kita semua, untuk itu pada hari ini kita melakukan kegiatan penutupan bela negara yang esensinya adalah meningkatkan rasa cinta Tanah Air bagi mahasiswa-mahasiswa Universitas Garut," katanya pula.

Ia menjelaskan kegiatan bela negara tidak hanya dimaknai sebagai angkat senjata saja, tetapi ada makna lain yaitu memiliki karakter untuk bekerja sungguh-sungguh, serius, penuh tanggung jawab dalam melangsungkan kegiatan sesuai bidang dan minat masing-masing.

Rektor berharap melalui kegiatan bela negara dapat muncul sikap saling menghormati, menghargai, dan memahami antara seluruh elemen masyarakat di Indonesia.

"Ke depan adik-adik mahasiswa ada yang mengabdi di sektor publik, wirausaha, guru, dosen, karyawan, tentu saja sesuai dengan minat dan keinginannya, tetapi semuanya itu bekerja untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar dan bangsa yang maju," katanya.

Komandan Yonif Raider 303/SSM Mayor Inf Slamet Faojan menyampaikan pada pelaksanaan Pendidikan Bela Negara itu mahasiswa diberikan materi seperti kedisiplinan, mental ideologi, wawasan kebangsaan, dan kepemimpinan lapangan.

Materi yang telah disampaikan itu, kata dia, diharapkan dapat memberikan dan meningkatkan rasa cinta pada Tanah Air yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di lingkungan masyarakat.

"Berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara serta menjaga identitas dan integritas bangsa dan negara," katanya pula.

Ia berharap setelah selesainya pelatihan Pendidikan Bela Negara itu, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa bisa menjadi pemimpin yang sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing.

"Baik di pemerintahan maupun di sektor lainnya, dapat meningkatkan rasa cinta Tanah Air, bangsa dan negara, serta berkehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, tanpa membedakan ras, suku, agama, dan kelompok-kelompok tertentu," katanya lagi.

Pendidikan Bela Negara digelar secara bertahap yang dibagi dalam 10 gelombang dimulai sejak 27 Januari 2022 lalu.
Baca juga: Wali kota: Pendidikan bela negara jangan artikan wajib militer
Baca juga: Pendidikan militer tidak wajib, sebut Mendikbud

Pewarta: Feri Purnama
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2022