Ketua OJK ingatkan "perfect storm" berpotensi melanda dunia ke depan

Ketua OJK ingatkan "perfect storm" berpotensi melanda dunia ke depan

Ilustrasi: Tangkapan layar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dalam webinar Puncak Kejar Prestasi Generasi Muda (Kreasimuda) yang dipantau di Jakarta, Selasa (23/8/2022). ANTARA/Sanya Dinda/aa.

"Kalau kita lihat kondisi ekonomi global saat ini memang sudah seperti layaknya badai...Nampaknya perfect storm yang akan ada probabilitasnya ke depan
Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengingatkan perfect storm alias badai sempurna berpotensi melanda dunia ke depannya.

"Kalau kita lihat kondisi ekonomi global saat ini memang sudah seperti layaknya badai. Hanya memang banyak yang bertanya apakah ini angin topan atau perfect storm. Nampaknya perfect storm yang akan ada probabilitasnya ke depan," ungkap Mahendra pada BNI Investor Daily Summit 2022 di Jakarta, Selasa.

Dalam konteks ekonomi global, perfect storm merupakan tiga permasalahan yang menjadi satu, yaitu inflasi tinggi yang menyebabkan beberapa negara maju mengalami inflasi tertinggi dalam 30-40 tahun atau sepanjang sejarah perekonomian, resesi baik secara teknis atau efektif, serta kondisi ketidakpastian yang luar biasa yaitu geopolitik.

Menurutnya, aspek ketidakpastian sejak dahulu sampai sekarang sebenarnya tidak diajarkan dalam teori ekonomi karena bukan bagian dari ekonomi. Namun ternyata saat ini faktor tersebut justru menjadi penyebab terbesar guncangan global.

Baca juga: Presiden serukan optimisme & waspada, 28 negara antre pertolongan IMF

Meski begitu, lanjutnya, tiga permasalahan tersebut masih belum bisa dipastikan berapa lama waktunya dan berapa besar dampaknya. Tetapi yang pasti terjadi, perfect storm akan datang cepat atau lambat.

Dalam perspektif OJK sebagai regulator dan bagian dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, pihaknya tidak hanya sekedar mencermati dan menyesali ketidakpastian yang yang ada. Tetapi justru melakukan pembahasan, koordinasi, dan kolaborasi, untuk dapat memitigasi, termasuk dengan langkah-langkah stress test terhadap skenario yang mungkin terjadi.

Dengan berbagai langkah tersebut, Mahendra berharap seluruh pihak tidak panik dan lengah terhadap risiko-risiko yang ada. Namun harus tetap fokus kepada agenda utama memperkuat dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

"Ekonomi Indonesia sendiri dari kacamata pertumbuhan tetap terjaga maupun dari segi berbagai perkiraan yang diterbitkan sejumlah lembaga multilateral, internasional, maupun analis. Semua menyatakan tetap dan tumbuh terjaga di kisaran bahkan di atas lima persen untuk tahun ini dan tahun depan, sekalipun terjadi badai, dan itu adalah fakta yang penting," ujar Mahendra.

Baca juga: Presiden Jokowi terima laporan Menkeu soal sulitnya ekonomi global

Selain itu, kata dia, sentimen industri manufaktur juga mencatatkan optimisme yang sehat dengan Purchasing Managers' Index (PMI) di atas 50. Meski demikian tak dipungkiri terdapat lonjakan inflasi domestik akibat kenaikan harga BBM. 

Sektor keuangan pun akan terus mendukung agenda hilirisasi, peningkatan nilai tambah industri, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan rantai pasok di dalam negeri bagi berbagai produksi sumber daya alam, baik mineral dan pertanian.

"Bagian Ini berbeda dengan yang tidak terprediksi dan tidak pasti seperti badai dunia, karena ini bisa dikontrol dan bisa diprediksi sehingga kita bisa fokus," tutur Mahendra.

Baca juga: Ketua OJK sebut resesi ekonomi global hampir pasti terjadi di 2023

 

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar