Jakarta (ANTARA News) - Tokoh pers Indoensia, Goenawan Susatyo Mohamad (64), dijadwalkan menerima penghargaan "Dan David Prize" tahun 2006, di Tel Aviv, Israel, Mei mendatang. Menurut Bimo Nugroho, sahabat karib Goenawan Mohammad, kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, pemberian penghargaan yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv (TAU) itu didasarkan kepada aktifitas Goenawan selama 30 tahun terakhir yang memperjuangkan kebebasan pers dan jurnalisme yang independen di negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia (Indonesia -red). Seperti telah diberitakan harian lokal Israel, "Haaretz", edisi 18 April lalu, Goenawan Mohamad akan menerima hadiah uang senilai 250 ribu dolar AS. Selain dia, penghargaan juga diberikan kepada tiga orang jurnalis, yakni Deputi Editor koran Italia "Corriere della Sera" Magdi Alla, seorang jurnalis asal Chile Monica Gonzales, dan Adam Michnik dari Polandia. Harian "Haaretz" menyebutkan bahwa Goenawan telah berencana untuk menyerahkan hadiah uang yang ia terima itu kepada jurnal sastra Indonesia, "Kalam". Bimo yang juga merupakan komisaris dari Komisi Penyiaran Indonesia membenarkan bahwa dana sebesar 250 ribu dolar AS itu akan disumbangkan untuk Jurnal "Kalam". Goenawan sendiri kepada Haaretz menceritakan bahwa Jurnal Kalam tidak mempunyai sumber pendanaan yang tetap. "Para editor mengerjakan tugas-tugasnya semata karena cinta," kata pria kelahiran Karangasem, Batang, Jawa Tengah, itu kepada koran Israel. "Dan David Prize" mulai diberikan pada tahun 2002 kepada para individual dan institusi yang telah memberikan kontribusi unik dan besar dalam sektor kemanusiaan, termasuk di antaranya kontribusi di bidang ilmu pengetahuan alam, seni, dan bisnis dalam tiga dimensi waktu - lampau, kini, dan akan datang. Tiap dimensi waktu terdapat empat penerima penghargaan yang masing-masing berhak menerima hadiah uang senilai 250 ribu dolar AS. Penerima "Dan David Prize" wajib menyisihkan 10 persen uang penghargaan tersebut guna membiayai beasiswa para peneliti muda dari TAU dan universitas-universitas lain di seluruh dunia. Penghargaan ini mengambil nama seorang pengusaha Yahudi yaitu Dan David. Penyelenggaraannya dilakukan oleh TAU secara rutin tiap tahun di Tel Aviv. Kunjungan Goenawan pada Mei mendatang bakal jadi kali keduanya setelah perjalanan sembunyi-sembunyi pada tahun 1981. "Saya pergi ke Israel tak lama setelah Presiden Anwar Sadat dibunuh, saya ke sana dalam rangka liputan untuk Majalah `Tempo`," kata pria yang pernah menimba ilmu di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tersebut. Di sana Goenawan sempat mewawancarai Perdana Menteri Menachem Begin dan bertemu dengan Ariel Sharon. Goenawan adalah sosok yang sering menerima penghargaan. Setidaknya pada tahun 1992 ia sempat dianugerahi penghargaan Profesor Teeuw dari Universitas Leiden, Belanda. Pada tahun 1998, ayah dari dua anak ini menerima penghargaan internasional dalam hal Kebebasan Pers dari Komite Pelindung Jurnalis. Setahun kemudian, ia menerima penghargaan dari World Press Review, Amerika Serikat, untuk kategori Editor Internasional. (*)

Copyright © ANTARA 2006