Jakarta (ANTARA) - Ketika seorang lelaki lanjut usia dengan demensia mulai berkeliaran dari rumahnya di Singapura, sering berjalan bermil-mil sebelum ditemukan, pengasuhnya bingung bagaimana cara melacaknya sehingga sebuah perusahaan teknologi menyarankan pemasangan tag GPS di anggota tubuh.

Baca juga: Mensos keluarkan SE larang eksploitasi lansia untuk mengemis

Pengasuh juga menempatkan sensor gerak di apartemen pria berusia 74 tahun itu dan kamera CCTV di ambang pintunya sehingga mereka bisa memantaunya dari kejauhan. Bangunan perumahan umum memiliki enam CCTV lagi di area umum untuk mengawasi penghuni seniornya.

"Kami merasa lebih tenang sejak kami memasang ini, karena kami dapat lebih mudah mengawasi mereka dan menemukannya dengan cepat jika mereka terjatuh atau tersesat," kata seorang sukarelawan pengasuh yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena merasa tidak berwenang untuk berbicara kepada media, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis.

Teknologi pemantauan serupa menjadi semakin umum di Singapura dan negara Asia lainnya dengan populasi yang menua dengan cepat.

Para sponsor mengatakan itu membantu menjaga keamanan orang tua yang rentan, sementara pakar teknologi menganggap itu mengganggu dan membuka peluang pada pelanggaran data.

Baca juga: Dosen ingatkan manfaat asam amino glutamat bagi lansia

"Masalah dengan banyak teknologi untuk manula adalah bahwa mereka dipasang peralatan itu untuk 'mengawasi', sehingga mereka mungkin merasa sedang diawasi, dan kontrol yang mereka miliki atas privasinya diambil," kata Han Ei Chew, peneliti senior di National University of Singapore, kepada Reuters.

"Kami juga harus sangat memperhatikan keamanan data dan masalah privasi, dan mencegah situasi di mana teknologi digunakan untuk memata-matai manula, dan memastikan bahwa data tidak dieksploitasi secara komersial," tambah Chew, yang pekerjaannya berfokus pada teknologi dan masalah sosial.

Penggunaan video "dimaksudkan untuk mengurangi beban petugas kesehatan," kata Malou Toft, wakil presiden Asia-Pasifik di Milestone Systems, sebuah perusahaan perangkat lunak manajemen video yang menyiapkan beberapa teknologi yang digunakan di gedung berusia 74 tahun itu.

Perangkat pemantauan membantu memastikan "tempat itu dijaga dengan baik, dan dengan cepat menarik perhatian pada situasi abnormal seperti jatuh atau melarikan diri," tambahnya.

Baca juga: Isu sosial jadi hambatan lansia enggan vaksin booster

Populasi penuaan
Pada tahun 2050, satu dari empat orang di Asia dan Pasifik akan berusia lebih dari 60 tahun, menurut PBB, dengan konsekuensi sosial dan ekonomi yang signifikan bagi negara-negara termasuk Jepang, Korea Selatan, Singapura, China, dan Thailand.

Teknologi rumah pintar seperti kamera, robot, sensor gerak, dan speaker berbasis kecerdasan buatan sedang diluncurkan untuk membantu merawatnya.

Namun, perangkat tersebut banyak di antaranya dirancang untuk menjadi sistem keamanan dan pengawasan, dapat melanggar hak-hak populasi rentan yang mungkin tidak sepenuhnya memahaminya, kata para kritikus.

"Perangkat rumah pintar menimbulkan kekhawatiran unik bagi orang tua yang mungkin kurang akrab dengan teknologi ini," kata Yolande Strengers, seorang profesor teknologi dan masyarakat digital di Universitas Monash Australia.

"Orang yang lebih tua juga mungkin lebih rentan terhadap pelanggaran privasi data, atau kurang menyadari bagaimana data mereka digunakan, membuat mereka berisiko terkena dampak mulai dari iklan spam hingga penipuan,” tambahnya.

Baca juga: 68,2 juta orang sudah terima dosis ketiga vaksin COVID-19

Jaga mata
Jumlah orang berusia 65 tahun atau lebih di seluruh dunia diperkirakan akan berlipat ganda menjadi 1,6 miliar pada tahun 2050.

Di Jepang--yang memiliki masyarakat paling tua di dunia--pemerintah telah mendanai pengembangan robot perawatan lansia termasuk anjing dan anjing laut berbulu untuk membantu mengisi kekurangan pengasuh.

Robot dapat memantau pengguna, terlibat dalam percakapan, dan membantu gerakan.

Jepang juga memiliki proporsi penderita demensia tertinggi di dunia, penyebab utama kasus jatuh dan orang hilang.

Di beberapa kota, petugas telah memasang sensor WiFi di jalan-jalan untuk melacak manula dengan kondisi tersebut.

Di Korea Selatan, speaker pintar Nugu telah digunakan oleh 76 pemerintah daerah dan lembaga kesejahteraan sebagai "jaring pengaman sosial" dan digunakan oleh lebih dari 14.000 manula yang tinggal sendiri, kata juru bicara penyedia layanan seluler SK Telecom, yang meluncurkan perangkat pada tahun 2019.

Speaker pintar, yang mirip dengan Alexa dari Amazon, dapat menjawab pertanyaan, memutar musik, menelepon, dan mengatur permainan dan kuis yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan kognitif manula.

Selama pandemi, pihak berwenang menggunakan speaker itu untuk memberikan tips menghindari infeksi, dan bahkan saran untuk resep sehat dan musik yang membangkitkan semangat. Layanan darurat telah membantu lebih dari 300 manula yang menggunakan fitur SOS speaker.

Percakapan pengguna senior dengan speaker mereka dianalisis oleh AI atau kata kunci seperti "kesepian" dan "kebahagiaan" untuk memantau kondisi mental mereka dan meningkatkan kinerja gawai, kata juru bicara SK Telecom.

"Pengguna sadar bahwa pola penggunaan mereka dikumpulkan. Mereka harus menyetujui ini untuk mendaftar ke layanan ini," tambah juru bicara itu.

Baca juga: Dokter sebut olahraga renang dan sepeda baik bagi lansia

Perangkat teknologi
Di Singapura, di mana pemerintah mensubsidi biaya gawai untuk manula, perusahaan sedang mengerjakan beberapa teknologi baru yang menggunakan AI untuk mempelajari video dan suara guna mendeteksi jika seseorang jatuh atau membutuhkan bantuan.

Dengan semua ini, penting untuk membiarkan manula "membuat keputusan apakah membiarkan teknologi - terutama teknologi pengawasan - ke dalam kehidupan mereka, dan memilih kapan harus mematikannya," kata Chew.

Terkadang, keluarga memutuskan bahwa itu tidak mungkin.

Baca juga: Begini perawatan yang dapat dilakukan pada orang dengan demensia

Lim, 74, memasang kamera CCTV untuk mengawasi ibunya yang berusia 96 tahun yang menderita demensia, dan telah jatuh dua kali.

"Dia pertama kali mengatakan 'Saya ingin privasi saya, saya tidak ingin CCTV'. Tapi kami khawatir, dan dia tidak menyadarinya lagi," kata Lim, yang meminta disebutkan nama belakangnya saja untuk melindungi privasinya.

Lim, yang juga tinggal sendiri, memasang sensor gerak di apartemennya sendiri beberapa tahun yang lalu, yang mengirimkan peringatan jika tidak ada aktivitas yang terdeteksi, mendorong panggilan otomatis untuk memeriksanya.

Jika dia tidak menjawab, atau menunjukkan bahwa dia membutuhkan bantuan, peringatan dikirim ke pengasuhnya, serta ke penyedia layanan teknologi yang kemudian memeriksanya, atau menelepon layanan darurat.

"Saya merasa sangat terhibur, mengetahui seseorang mengawasi saya, seseorang akan menelepon untuk memeriksa saya," kata Lim.

"Tidak ada petugas perawatan yang cukup, dan kaum muda tidak memperhatikan anggota keluarga yang lebih tua, maka perusahaan-perusahaan teknologi melakukan tugas itu."


Baca juga: Studi baru: Demensia dapat dideteksi sembilan tahun sebelum diagnosis

Baca juga: Dokter sebut penting deteksi dini cegah demensia

Baca juga: Studi: Satu dari 10 lansia di AS menderita demensia

Penerjemah: Siti Zulaikha
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2023