Pontianak (ANTARA News) - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak mengatakan, kalangan dunia usaha di Pontianak dan sekitarnya mengalami kerugian antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar setiap hari akibat pemadaman bergilir yang dilakukan PT PLN Persero Wilayah V Kalbar sejak sebulan terakhir. "Usaha industri rumah tangga, skala menengah dan besar terkena dampak seringnya listrik padam mendadak dan kebijakan pemadaman bergilir. Mereka sudah amat sering mengeluhkan kondisi ini," kata Ketua Apindo Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya di Pontianak, Jumat. Usaha yang terkena dampak pemadaman bergilir itu diantaranya cafe, Warnet, penyewaan Play Station, bengkel las, toko foto copy, percetakan sampai pada industri pembuatan barang barang plastik, pabrik-pabrik serta pusat perbelanjaan. Ia mengatakan, ketidakandalan layanan PLN Kalbar dalam melayani kebutuhan listrik, selain menimbulkan kerugian bagi kalangan dunia usaha juga menyebabkan peralatan listrik di masyarakat. "Hilangnya pemasukan akibat tidak adanya tenaga listrik untuk mengoperasikan usahanya, misalnya fotocopy, warnet, cafe," kata Acui. Pelaku usaha juga harus melakuan investasi tambahan berupa Generator dan BBM untuk mengoperasikan generator tersebut. Selain itu, kerugian harus tetap membayar biaya beban pada PLN walaupun PLN tidak dapat mencukupi kebutuhan listrik bagi pengusaha sebagai pelanggannya. "Mereka juga sulit untuk meningkatkan kapasitas usaha maupun menambah unit mesin baru bagi sebagian jenis usaha akibat ketidakpastian tersedianya pasokan listrik," katanya. Hal itu diperparah kerusakan pada beberapa atau sebagian alat yang sensitif dengan adanya pemadaman listrik secara mendadak. Di sisi lain, kemajuan pembangunan kota juga terhambat karena develover yang membangun unit rumah baru pada saat ini tidak mendapat jatah sambungan listrik baru. "Penjualan rumah baru menjadi stagnan akibat tidak tersedianya sumber daya listrik pada perumahan baru, sehingga saat ini kegiatan untuk pengembangan perumahan baru juga mengalami hambatan karena faktor listrik," ujar Acui. Kalbar juga tidak akan dilirik oleh investor baru karena dalam survei kelayakan, salah satu sumber yang dijadikan pertimbangan adalah tersedianya listrik sebagai sumber daya disamping air dan bahan baku.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2006