Singapura (ANTARA) - Dolar AS menguat mendekati puncak satu bulan di awal sesi Asia pada Selasa pagi, karena para pedagang menaikkan perkiraan tingkat suku bunga Federal Reserve AS yang diperlukan untuk menjinakkan inflasi, ketika pasar tenaga kerja yang tangguh sebagian besar tetap kebal terhadap kenaikan suku bunga yang agresif.

Pasar masih belum pulih dari keterkejutan laporan pekerjaan Jumat (3/2/2023), yang menunjukkan bahwa data penggajian nonpertanian (NFP) melonjak 517.000 pada Januari, jauh di atas ekspektasi.

Laporan tersebut, yang membuat para pedagang salah langkah karena jeda yang akan segera terjadi dalam siklus kenaikan suku bunga Fed, memberikan penguatan pada greenback dan mengirim pound jatuh ke level terendah satu bulan di 1,2006 dolar di sesi sebelumnya. Sterling terakhir 0,09 persen lebih tinggi pada 1,2033 dolar.

Demikian pula, kiwi naik 0,06 persen menjadi 0,6308 dolar AS, tetapi tidak jauh dari palung satu bulan pada Senin (6/2/2023) di 0,6271 dolar AS.

Euro menguat 0,06 persen menjadi 1,0733 dolar, setelah meluncur menjadi 1,0709 dolar di sesi sebelumnya, terendah sejak 9 Januari.

"Sejak Jumat lalu (3/2/2023), (ketika) AS melaporkan angka pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan, ini membalikkan ekspektasi bahwa Fed akan melakukan perubahan arah dalam kebijakan moneternya," kata Tina Teng, analis pasar di CMC Markets.

"Saya tidak berpikir jumlah pekerjaan adalah kuncinya... tapi itu jelas berdampak besar pada kebijakan moneter (The Fed)."

Imbal hasil obligasi pemerintah AS telah meningkat didukung ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, dengan imbal hasil dua tahun menyentuh level tertinggi satu bulan di 4,493 persen pada Senin (6/2/2023). Imbal hasil dua tahun terakhir mencapai 4,4347 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun AS yang jadi acuan terakhir di 3,6305 persen, setelah sama-sama naik ke puncak empat minggu di 3,6550 persen di sesi sebelumnya.

Perkiraan pasar berjangka menunjukkan bahwa pasar mengharapkan suku bunga dana Fed mencapai puncak tepat di atas 5,1 persen pada Juli, dibandingkan dengan ekspektasi kurang dari 5,0 persen sebelum laporan pekerjaan Jumat (3/2/2023).

Greenback yang melonjak mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi hampir satu bulan di 103,76 pada Senin (6/2/2023), dan terakhir sedikit lebih rendah di 103,52.

Menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Australia (RBA) pada Selasa, Aussie naik 0,23 persen menjadi 0,6899 dolar AS.

RBA secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dan fokusnya akan berada pada pernyataan yang menyertai petunjuk tentang kemungkinan jalur kebijakan moneter tahun ini.

Di tempat lain di Asia, yen Jepang naik 0,2 persen menjadi 132,37 per dolar, tetapi tetap berada di dekat level terendah satu bulan pada Senin (6/2/2023) di 132,90 per dolar.

Data pada Selasa menunjukkan bahwa upah riil Jepang naik pada Desember untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, meskipun masih ada ketidakpastian apakah kenaikan gaji akan terus menopang pemulihan ekonomi negara itu.

Sebuah laporan surat kabar pada Senin (6/2/2023) mengatakan bahwa pemerintah Jepang telah memanggil Deputi Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) Masayoshi Amamiya untuk menggantikan Haruhiko Kuroda yang sedang menjabat sebagai gubernur bank sentral. Amamiya dianggap oleh pasar lebih dovish daripada pesaing lainnya.

"Saya tidak berpikir BoJ akan membalikkan kebijakan moneter," kata Teng dari CMC, di tengah harapan pasar bank sentral akan meninggalkan kebijakan kontrol kurva imbal hasil setelah gubernur baru menjabat.

"Masih ada kekhawatiran ekonomi, masih ada risiko resesi."


Baca juga: Peretasan kripto 2022 curi 3,8 miliar dolar dipimpin kelompok Korut
Baca juga: Dolar perpanjang "rebound" didukung data AS, yen tergelincir
Baca juga: Emas terkerek 2,90 dolar, bangkit dari pekan terburuk dalam 7-bulan

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2023