Jakarta (ANTARA News) - Ketahanan pangan di regional Asia pada masa mendatang akan penuh tantangan seiring dengan laju pertumbuhan penduduk yang pesat, demikian menurut Bank Pembangunan Asia (ADB).

"Asia menghadapi tantangan yang berat untuk memberi makan lima miliar orang pada 2030," kata Wakil Presiden ADB untuk Bidang Manajemen Pengetahuan dan Pembangunan Berkelanjutan ADB, Bindu Lohani, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Menurut dia, tantangan tersebut terasa berat karena melonjaknya populasi dan tingkat pendapatan, terjadinya degradasi sumber daya, dan perubahan iklim.

Semua hal tersebut, lanjutnya, juga akan meningkatkan tekanan akan meningkatnya harga pangan dan juga membutuhkan perbaikan yang meluas untuk memastikan pasokan pangan yang memadai dan terjangkau.

Untuk itu, pemerintahan di Asia diminta agar menahan harga pangan serta memastikan adanya ketahanan pangan regional jangka panjang yang membutuhkan adanya rantai suplai dari lahan pertanian ke pasar yang lebih efisien dan berbiaya lebih rendah.

Sebelumnya, Bank Dunia menyatakan bahwa ketahanan pangan bagi masyarakat yang paling rentan harus menjadi prioritas pada saat terjadinya krisis terkait keguncangan finansial global dan meningkatnya harga pangan di dunia.

"Selama krisis, keluarga miskin cenderung mengurangi kuantitas makanan yang mereka konsumsi atau gantikan untuk alternatif kualitas yang lebih rendah," kata Spesialis Nutrisi Senior Bank Dunia, Marie Chantal Messier.

Bahkan, menurut dia, para keluarga miskin itu juga cenderung memotong alokasi dana untuk jasa pelayanan kesehatan yang preventif.

Untuk itu, Bank Dunia mendorong berbagai pemerintahan dan lembaga mitra pembangunan untuk memaksimalkan sumber daya finansial dan manajemen dengan memprioritaskan inisiatif yang mencakup sektor kesehatan, nutrisi, pertanian, air dan sanitasi, serta jaminan sosial.

(M040)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2012