Yogyakarta (ANTARA News) - Awan panas Gunung Merapi (2.965 mdpl)selepas dini hari hingga Selasa pagi terjadi hanya beberapa kali, dengan jarak luncur maksimum 1,5 kilometer ke arah hulu Kali Gendol atau lereng selatan di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dari pantauan beberapa Pos Pengamatan Merapi, seperti di Pos Ngepos, Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng), Pos Kaliurang, Sleman, DIY dan Pos Deles di Kabupaten Klaten (Jateng), awan panas yang terjadi tidak dapat teramati seluruhnya, karena sering terhalang kabut tebal. Menurut Sunarto petugas Pos Pengamatan Merapi di Ngepos, kabut tebal terkadang menutup sebagian, hanya kaki maupun puncak gunung, dan terkadang pula menutup seluruh tubuh gunung, sehingga pengamatan secara visual tidak optimal. Seperti awan panas yang terjadi selepas pukul 00.00 WIB tidak bisa teramati sempurna, namun pada pukul 03.10 WIB sempat terlihat jelas meluncur sejauh sekitar satu kilometer ke arah hulu Kali Gendol. Kemudian antara pukul 05.25 hingga pukul 06.30 WIB terjadi beberapa kali awan panas dengan jarak luncur bervariasi sejauh satu hingga satu setengah kilometer, semuanya ke hulu Kali Gendol. Sebelumnya, Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Drs Subandriyo, mengatakan meski aktivitas Merapi dalam tiga hari ini cenderung menurun, antara lain ditandai dengan menurunnya kejadian awan panas dan kegempaan, tetapi status aktivitasnya masih tetap 'awas'. Hasil evaluasi perkembangan terakhir aktivitas gunung ini, Senin (12/6) dilaporkan ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung, dan institusi ini yang nantinya berwenang menetapkan status aktivitas Merapi apakah masih tetap 'awas' atau diturunkan menjadi 'siaga', ujarnya. (*)

Copyright © ANTARA 2006