Ada dua masalah di kita. Pertama soal supply, produksi gas dalam skala besar tidak kontinu, artinya terputus dengan pengembangan baru. Kedua kurangnya infrastruktur. Di sini ada market, (tapi) di situ tidak ada supply
Jakarta (ANTARA) - Chairman Indonesia Gas Society (IGS) Aris Mulya Azof menyatakan momentum pengoptimalan penggunaan dan penyaluran gas bumi yang mulai tumbuh terbentur masalah infrastruktur.

“Ada dua masalah di kita. Pertama soal supply, produksi gas dalam skala besar tidak kontinu, artinya terputus dengan pengembangan baru. Kedua kurangnya infrastruktur. Di sini ada market, (tapi) di situ tidak ada supply," kata Aris saat berbicara pada Opening Ceremony The10th International IndoGAS & Power 2023 di Jakarta, Selasa.

Selain masalah infrastruktur dan supply, lanjutnya, harga gas juga masih menjadi tantangan cukup besar untuk dicarikan solusinya. Padahal hal ini dinilainya berhubungan dengan ketersediaan infrastruktur.

"Affordability, artinya jangkauan dari kemampuan konsumen untuk menyerap atau membeli dengan harga yang sesuai keekonomian dari hulu," ungkap Aris.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Program Migas Ditjen Migas Kementerian ESDM, Mustafid Gunawan, pada kesempatan yang sama menjelaskan bahwa pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Bahkan aturan tambahan tengah disiapkan yang bertujuan untuk memanfaatkan potensi gas bumi yang memang besar. Bahkan beberapa blok migas yang ditawarkan pemerintah dalam lelang juga sebagian besar memiliki potensi gas alam.

Mustafid juga menyampaikan bahwa kebijakan yang diluncurkan juga diarahkan untuk menggenjot kawasan industri yang berbasis gas.

"Lokasinya nanti akan berdekatan dengan sumber gas alam, kita harap industrinya bisa makin efisien," jelas Mustafid.

Lebih lanjut Mustafid menuturkan bahwa ada empat prioritas utama untuk Bisnis Gas Indonesia. Pertama, percepatan pemanfaatan gas domestik. Hal itu lantaran pemanfaatan gas domestik pada 2022 mencapai 68 persen dari total gas yang dimonetisasi dengan mendongkrak penciptaan permintaan gas bumi.

Kedua, mengamankan pasokan gas dan LNG untuk menambah cadangan gas Indonesia dengan mengintensifkan kegiatan hulu migas. Sedangkan ketiga adalah mengintegrasikan infrastruktur gas dan menciptakan solusi yang inovatif.

Ia pun mencontohkan jalur transmisi dan distribusi. Saat ini, lebih dari 1.000 MMSCFD infrastruktur regas, LNG Skala Kecil, LNG dalam tangki portabel, dan juga LNG untuk truk telah dibangun.

"Keempat, menyediakan gas yang andal dan terjangkau bagi pelanggan akhir dengan menciptakan konstruksi pipa distribusi yang hemat biaya dan marjin perdagangan yang adil serta mengatur harga gas untuk sektor strategis, seperti listrik, rumah tangga, transportasi, dan industri terpilih," tutur dia.

Baca juga: Integrasi pipa PGN-Pertagas dongkrak kapasitas penyaluran gas ke Jabar
Baca juga: Subholding Gas Pertamina dan Petronas teken penyaluran gas 50 MMSCFD
Baca juga: PGN jaga kelancaran penyaluran gas ke pembangkit PLN pada Lebaran

 

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2023