Solo (ANTARA News)- Pemerintah melalui Kementerian Pertanian berupaya menambah areal sawah seluas 130 ribu hektar/tahun.

Hal itu dilakukan menyusul maraknya alih fungsi lahan yang mencapai 100 ribu hektar/tahun.

Upaya ini sekaligus menjadi cara menjaga swasembada beras pada 2014.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Dr. Haryono kepada wartawan usai menyampaikan keynote speech mewakili Menteri Pertanian RI Dr. Suswono, MMA pada seminar nasional bertema Akselerasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Menuju Kemandirian Pangan dan Energi di Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Rabu.

Lahan sawah baru itu akan dibuka dengan memanfaatkan lahan tidur di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

"Memang yang dikembangkan pada umumnya lahan tidur. Tapi yang dicari juga wilayah yang paling cepat dikembangkan termasuk di dalamnya memperhitungkan keberadaan petani di sekitarnya," katanya.

Selain itu, Kementan juga menerbitkan kalender tanam terpadu (KTT).

KTT berisi informasi yang merupakan kombinasi antara data dari Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan data pertanian.

KTT memuat informasi komprehensif perihal penjelasan kapan tanam, rekomendasi varitas, pupuk serta potensi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), informasi mengenai potensi banjir, dan juga kekeringan yang dijabarkan detil hingga ke tingkat kecamatan.

"Saat ini KTT terbit setiap 2-3 bulan sebelum musim kemarau dan musim hujan. Bahkan, data itu rencananya akan diterbitkan setiap bulan dan diperluas hingga pascapanen," jelasnya.

Haryono menilai, perbaikan jaringan irigasi juga vital untuk segera dilakukan. Tahun lalu, setidaknya irigasi yang rusak mencapai 52 persen.

Pihaknya kini terus membenahi kerusakan itu sebesar 10-15 persen/tahun.

Dengan demikian, itu berdampak pada meningkatnya indeks pertanaman (IP) di Indonesia.

Saat ini IP berada di kisaran 1,5. Haryono sendiri menargetkan IP akan bergerak menjadi 1,7.

Artinya, setiap tahun petani menanam sebanyak 1,7 kali.

Ada yang menanam sekali, dua kali, tiga kali atau tidak nanam karena diganti palawija misalnya.

Ia mengatakan, dengan memperbaiki jaringan irigasi hampir pasti indeks pertanamannya naik.

Karena yang panen sekali jadi dua kali, yang dua kali jadi tiga kali, yang tidak nanam jadi tanam sekali.

Saat ini Balitbang Pertanian memiliki peneliti sebanyak 1.690 peneliti. Jumlah itu dinilainya masih sangat kurang jika dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia. Idealnya, jumlah peneliti menembus angka 10.000 orang.

Pewarta: Joko Widodo
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2013