Bukittinggi (ANTARA News) - Pelari putra dan putri Kenya menguasai lomba lari Bukittinggi Wisata Milo International 10K untuk kategori Elit Internasional dengan merebut posisi teratas di Bukittinggi, Minggu.

Di bagian putra, tiga peringkat teratas bahkan diborong pelari Afrika tersebut, sementara dibagian putri, pelari nasional Triyaningsih harus puas menempati urutan kedua pada lomba yang diikuti sekitar 6.000 peserta itu.

Collins Kimosop tampil sebagai yang tecepat di kelompok Elit Internasional putra dengan mencatat waktu 30,58 detik, disusul rekannya Chemweno Bethwel Kiprono (31,19) dan Kibor Hilarry Kiprono (31,22).

Di kelomook elit internasional putri, juara diraih Aan Nyithia dengan waktu 35,47 detik, disusul pelari nasional Trianingsih (37,04) dan Caroline Cecithy (39,20).

Lari yang menyediakan hadiah total sebesar Rp187 juta dan dibukia resmi oleh Menpora Roy Suryo dan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayiitno itu dibagi atas empat kategori, yaitu Elit Internasional, Nasional, Pelajar dan Umum.

Untuk kategori Nasional, peraih perak maraton SEA Games 2011 Jauhari Johan tampil sebagai juara dengan catatan waktu 31,23 detik.

Pelari asal Sumsel tersebut secara keseluruhan menempati peringkat keempat setelah tiga pelari Kenya dan sempat memimpin sampai KM 4 sebelum kemudian disalib mulai dari KM 7.

M. Ridwan dari NTT menempati peringkat kedua (32,24), disusul Nico Silas dari Bali (33,06) dan Aru Suwandana dari Jawa Barat (35,17).

Di kelompok nasional, juara diraih Veri Sukmafeu dari Kalimantan Timur dengan waktu 37,41 detik, mengungguli Novi Adriani dari Jawa Barat (38,10) dan Nyai Akida Prima dari Sumut (41,17).

Prestasi terbaik tuan rumah Sumatera Barat diraih Yulianti Utara di kelompok nasional dengan menempati peringkat keempat dengan waktu 42,16 detik.

Jauhari Johan, pelari yang langganan juara di Bukittinggi 10K tersebut, sampai kilometer 4, berhasil memimpin, tapi pada kilometer 7, tiga pelari Kenya berhasil menyalip di depan.

Tiga pelari Kenya tersebut tampak "mengeroyok" Jauhari yang kemudian harus puas mencapai garis finish pada posisi keempat.

"Saya belum pernah berlomba dengan ketiga pelari Kenya itu sebelumnya dan sempat bingung menyusun strategi karena belum tahu siapa yang paling baik diantara mereka," kata Jauhari yang juga peraih perak SEA Games 2007 di Thailand.

Memasuki KM 7, Jauhari melihat ketiga pelari Afrika itu saling bicara seperti hendak bermufakat dan mengatur strategi agar mereka bisa menguasai tiga posisi terdepan.

"Salah satu pelari Kenya yang tadinya berada di belakang, tiba-tiba menyalip dan kemudian menyusul dua rekannya untuk mencapai garis finish pertama," katanya.

Menpora Roy Suryo yang didampingi Irwan Prayitno dan Walikota Bukittingi Ismed Amzis dalam jumpa pers usai lomba mengatakan bahwa ia berharap lomba tahunan tersebut bisa ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang, menyusul sukses lomba sepeda Tour de Singkarak yang sudah masuk dalam kalender event internasional.

"Saya siap mendukung untuk menjadikan event ini menjadi kallender internasional. Saya siap membantu mengirim panitia ke Perancis untuk menyampaikan proposal untuk kegiatan berikutnya," kata Roy Suryo.

Collins Kimosop, juara kelompok Elit Internasional mengatakan bahwa ia baru untuk pertama kali mengikuti event tersebut dan melihat penampilan para pelari Indonesia, ia yakin tuan rumah bisa menjuara Bukittinggi 10K berikutnya.

"Saya meliihat banyak pelari tuan rumah yang potensial dan mereka berpeluang besar juara pada event berikutnya," kata Kimosop yang berhak atas hadiah utama sebesar Rp20 juta.

***4***

(A032)



Pewarta: Atman Ahdiat
Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2013