Survei SMRC: reformasi lebih baik dari Orde Baru

Survei SMRC: reformasi lebih baik dari Orde Baru

ILUSTRASI (ANTARANews.com)

Semua klaim negatif terhadap demokrasi itu ternyata tak sejalan dengan aspirasi masyarakat nasional secara umum,"
Jakarta (ANTARA News) - Hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 1-10 April 2013 menunjukkan mayoritas responden (57,7 persen) menyatakan demokrasi saat ini adalah sistem pemerintahan yang terbaik.

"Semua klaim negatif terhadap demokrasi itu ternyata tak sejalan dengan aspirasi masyarakat nasional secara umum," kata Direktur Riset SMRC Djayadi Hanan saat memaparkan hasil survei terkini SMRC dalam diskusi publik 15 Tahun Reformasi yang dselenggarakan majalah Indonesia 2014 di Jakarta, Selasa.

Djayadi Hanan mengatakan, hasil survei SMRC yang melibatkan 1.200 responden yang diambil secara acak di seluruh daerah di Tanah Air tersebut juga menunjukkan mayoritas responden (65,2 persen) menyatakan perjalanan negara Indonesia berada di arah jalan yang benar. Hanya 24,5 persen saja yang menyatakan salah arah dan sisanya menyatakan tidak tahu.

"Mayoritas responden (50,4 persen) juga menyatakan sangat atau cukup puas terhadap jalannya demokrasi di Indonesia. Mayoritas responden (64,1 persen) juga menilai pemerintahan SBY sebagai pemerintahan yang demokratis," katanya.

Serangkaian hasil survei SMRC ini, kata Djayadi Hanan, semakin membuktikan bahwa orang yang memimpikan Indonesia kembali menjadi seperti Orba di masa lalu ternyata bukanlah mainstream suara rakyat Indonesia. Rakyat menginginkan Indonesia semakin demokratis dan keinginan itu tidak bisa lagi diputar ke masa lalu.

Dengan serangkaian kemajuan yang telah diperoleh pascareformasi, lanjutnya, Indonesia terbukti semakin membaik dan kini dianggap sebagai salah satu calon raksasa dunia.

Organisasi terkemuka di AS, Freedom House, dalam laporan tahunannya dalam beberapa tahun terakhir (2005--2013) menempatkan Indonesia sebagai free country (negara bebas) di Asia, sejajar dengan Jepang, Korea Selatan, India, dan Taiwan.

Semua negara anggota ASEAN lain berada di bawah Indonesia. Hal itu tidak lain karena Indonesia dinilai sebagai negara yang menghormati kebebasan berpolitik, kebebasan berbicara, dan kebebasan pers.

"Menyangkut ekonomi, banyak lembaga internasional memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu negara penting. Konsultan terkemuka Morgan Stanley meramalkan pada 2020 akan ada lima negara ekonomi baru yang berposisi dominan, diantaranya Brasil, Rusia, Cina, dan Indonesia," kata Djayadi Hanan.

Sementara, pengamat ekonomi, Umar Juoro yang menjadi salah satu pembicara diskusi mengatakan, setelah 15 tahun reformasi berjalan, dapat dikatakan ekonomi Indonesia lebih baik. Pada tahun 1999 ketika reformasi dimulai, pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 1 persen. Namun, pada 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen.

"Tantangan kita ke depan adalah bagaimana reformasi dapat berjalan terus dan sejalan dengan perkembangan ekonomi," ujarnya. (*)

Pewarta: Ruslan Burhani
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Pemkot Bandung mulai sederhanakan birokrasi secara bertahap

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar