Mudah-mudahan ada pesanan dari sini, karena saya mendapat info masyarakat Ukraina sangat memperhatikan tren mode,"
Kiev (ANTARA News) - Perjalanan yang memakan waktu lebih dari 14 jam penerbangan, terasa tidak melelahkan, ketika melihat peluang mendapatkan pasar baru di negeri lain.

Setidaknya itu yang dirasakan Warsito, pengusaha kecil jaket kulit dari Jakarta yang baru pertama kali menjajaki pasar ekspor. "Mudah-mudahan ada pesanan dari sini, karena saya mendapat info masyarakat Ukraina sangat memperhatikan tren mode," katanya.

Harapan yang sama dibentangkan Herman Ong, pengusaha menengah dari Sidoarjo, yang memproduksi perlengkapan mandi, seperti sabun, shampo, dan body lotion. "Saya ingin mencoba masuk ke supermarket dengan menawarkan produk perlengkapan mandi untuk 'house brand' mereka," katanya.

Bagi UKM seperti Warsito yang menjajal fesyen kelas atas dengan jaket kulit senilai Rp800 ribu sampai Rp8 juta per potong, maupun Herman dengan produk pelengkapan mandi untuk menengah ke bawah, Ukraina menjanjikan peluang perluasan pasar. 

Ukraina merupakan negeri bekas pecahan Uni Sovyet yang cukup maju. Director General for Investment Innovation Activity and Development of State-private Partnership, Viktor Mykolayovyc, dari Kementerian Pembangunan Ekonomi dan Perdagangan Ukraina mengatakan saat ini negerinya termasuk ke dalam 100 negara dengan peringkat tertinggi dalam " doing business." 

Meski pertumbuhan ekonomi negara tersebut turun menjadi 0,2 persen tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,2 persen, pendapatan per kapita negeri itu jauh di atas Indonesia, yaitu mencapai 7.600 dolar AS per tahun. "Kami berharap ada peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Indonesia," ujar Viktor pada pertemuan bilateral dengan pejabat Indonesia yang dipimpin Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami dan Dubes RI untuk Ukraina Niniek Kun Naryatie. 

 Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, dalam lima tahun terakhir (2008-2012) neraca perdagangan kedua negara terus mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 3,79 persen. Pada 2012 total nilai ekpor Indonesia ke Ukraina mencapai 548,9 juta dolar AS, defisit dibandingkan impor dari Ukraina yang mencapai 774 juta dolar AS. 

Sebagian besar, menurut Gusmardi, impor Indonesia dari Ukraina adalah semi produk antara lain besi dan baja, gandum, meslin, amonium sulfat, urea, dan molases. Sedangkan ekspor Indonesia ke negara itu didominasi minyak sawit mentah (CPO). 

"Lebih dari 50 persen ekspor Indonesia ke Ukraina adalah CPO," ujarnya di sela-sela misi dagang ke negara mulai 23 sampai 26 Mei. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan, lanjut dia, bertekad lebih mendiversifikasi komoditas ekspor ke negara nontradisional termasuk Ukraina. 

 "Selain CPO, ekspor utama kita ke Ukraina antara nikel dan bijih besi, batubara, tekstil, dan sepatu olahraga, kulkas dan pembeku (freezer)," katanya. Padahal menurut dia, potensi produk yang bisa diekspor melalui kerja sama dengan pengusaha Ukraina, antara lain makanan dan minuman, otomotif dan suku cadangnya, produk spa, dan industri pertahanan. "Indonesia memiliki banyak produk potensial yang bisa dikembangkan bersama pengusaha Ukraina," ujar Gusmardi pada Forum Bisnis antara pengusaha Indonesia-Ukraina.

Ia menargetkan dengan misi dagang yang pertama kalinya ke Ukraina tersebut akan berdampak signifikan bagi peningkatan perdagangan kedua negara, khususnya ekspor Indonesia ke negara itu. Apalagi kegiatan yang berbarengan dengan pameran "Windows to Indonesia" yang digelar KBRI tersebut ternyata cukup diminati masyarakat Ukraina yang bermukim di Kiev.

Sebagian pengunjung nampak sangat tertarik pada berbagai produk fesyen, seperti aksesoris, perhiasan, batik, dan produk kerajinan. "Kami berharap dengan pameran ini, masyarakat Ukraina bisa melihat Indonesia dari berbagai sudut jendela, mulai dari kuliner, budaya, produk industri, maupun investasi," kata Dubes RI untuk Ukraina Niniek Kun Naryatie. Saat ini Indonesia, menurut dia, sudah menjadi eksportir terbesar di antara negara ASEAN, ke Ukraina. Namun, pencapaian itu ditempel ketat dengan angka ekspor dari Vietnam dan Thailand.

"Saat ini Vietnam sudah menempel kita. Vietnam telah memiliki kemitraan strategis, sementara Thailand memiliki variasi produk yang banyak," katanya.

Oleh karena itulah, promosi perdagangan dan kemauan pengusaha Indonesia untuk mencari peluang pasar baru sangat dibutuhkan agar ekspor nasional khususnya ke negara nontradisional seperti Ukraina terus berkembang. "Ukraina merupakan pasar kedua terbesar setelah Rusia di Eropa Timur," ujarnya. Niniek yakin dengan promosi yang intensif produk Indonesia bisa semakin dikenal oleh penduduk Ukraina yang mencapai 45,7 juta jiwa.

Pewarta: Risbiani Fardaniah
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2013