Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan Menteri Keuangan Chatib Basri meningkatkan koordinasi dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait situasi perekonomian dalam negeri.

"Hari ini Presiden juga akan mengungkapkan langkah-langkah terkini yang akan dilakukan terkait dengan tekanan eksternal di pasar keuangan tersebut," kata Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Firmanzah di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu.

Menurut dia, pada 2008 Pemerintah telah melakukan mekanisme mitigasi dampak krisis ekonomi global, hal serupa juga akan dilakukan pada saat ini, antara lain terkait penguatan kebijakan fiskal dan korelasinya terhadap kebijakan moneter.

"Beberapa waktu yang lalu Bank Indonesia juga sudah menaikkan BI rate," katanya.

Sementara itu pada Selasa (20/8), Bank Indonesia menyatakan faktor global dan faktor domestik masih menjadi penyebab tertekannya nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir.

Namun menurut Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, Bank Indonesia akan terus berada di pasar valas untuk melakukan intervensi dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah.

Selain melakukan intervensi, lanjutnya, BI juga melakukan pembelian surat berharga negara (SBN). Selama 2013, BI telah melakukan pembelian SBN sebanyak Rp31 triliun.

Berdasarkan kurs referensi JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) per 20 Agustus 2013, nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan menjadi Rp10.504 per dolar AS, dibandingkan kurs pada hari sebelumnya sebesar Rp10.451 per dolar AS.

Pewarta: GNC Aryani
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2013