Damaskus (ANTARA News) - Pemerintah Suriah mengatakan pada Sabtu bahwa para pejuang pemberontak menggunakan senjata kimia di distrik Timur Laut ibu kota, melawan tuduhan pemberontak bahwa rezim pemerintah berada di belakang serangan tersebut.

Televisi negara merekam "barel dipenuhi dengan racun berbahaya dan bahan kimia beserta masker gas, dikatakan itu hanya contoh kecil dari apa yang ditemukan di posisi pemberontak.

Disebutkan bahwa pemberontak menggunakan bahan tersebut untuk berusaha menghentikan kemajuan tentara.

"Unit tentara mengelilingi sebuah sektor Jobar, teroris menggunakan senjata kimia. Tentara yang mencoba memasuki lingkungan telah tercekik," kata penyiar televisi negara.

Pemberontak menguasai Jobar di pinggiran Damaskus melalui serangan tentara dan serangan udara dalam beberapa bulan.

Penyiar televisi negara mengatakan beberapa tentara menderita inhalasi gas beracun dan beberapa dalam kondisi kritis.

Observatori Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan pemerintah melakukan empat serangan udara pada Sabtu di wilayah dekat Jobar, tempat pada tentara dan pejuang pemberontak bertarung dalam bentrokan sengit.

Penyiar televisi negara juga mengatakan Arab Saudi dan Qatar, yang keduanya terbuka mendukung pemberontakan terhadap Presiden Bashar al-Assad, telah menyuplai pemberontak dengan masker gas dan obat-obatan.

Seorang koresponden untuk sebuah saluran melaporkan, di sepanjang wilayah Jobar, tentara menemukan barel bermerek "buatan Arab Saudi" dan masker gas. Koresponden tersebut menambahkan bahwa obat-obatan untuk inhalasi racun gas juga ditemukan dengan merek perusahan Jerman-Qatar.

Televisi menyebutkan pemberontak terpaksa menggunakan senjata kimia setelah kesusksesan tentara Suriah dalam beberapa hari terakhir.

Utusan perlucutan senjata PBB, di bawah Sekretaris Jenderal Angela Kane, telah di Damaskus pada Sabtu setelah oposisi menuduh pasukan Bashar membunuh lebih dari 1.300 orang dalam serangan gas pada Rabu di Barat Daya dan Timur ibu kota.

Suriah menyangkal tuduhan namun belum mengatakan akan mengijinkan tim penyidik senjata kimia PBB, sudah di lapangan sejak Minggu untuk penyelidikan di tiga tempat, untuk menginvestigasi tuduhan terbaru, demikian AFP.
(I028)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013