Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia yang juga sebagai Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad) Ina Primiana memprediksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri manufaktur dapat mencapai 5,4 persen hingga 5,6 persen pada 2024.

"Bila dijalankan secara konsisten, maka di tahun 2024 industri manufaktur akan semakin kuat dengan pertumbuhan bisa mencapai 5,4 sampai 5,6 persen," kata Ina dalam diskusi Outlook Ekonomi Sektor-sektor Strategis 2024 di Jakarta, Selasa.

Untuk mencapai pertumbuhan tersebut, Ina mengemukakan empat upaya penting yang harus dilakukan secara konsisten, yakni meningkatkan belanja pemerintah di semua instansi pemerintah pada produk dalam negeri yang mempunyai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Kemudian, memperluas dan mempercepat hilirisasi pada komoditas lain dengan menciptakan produk turunan sesuai kebutuhan pasar ekspor antara lain perkebunan, pertanian dan perikanan.

Upaya selanjutnya adalah menjaga industri yang memiliki kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB), ekspor terbesar, investasi terbesar atau membuka lapangan kerja terbesar.

"Sekarang baru yang nikel dan kelapa sawit itu yang ada turunannya, semuanya ada nilai tambahnya dan ada produk turunannya," ujarnya.

Selain itu, upaya strategis tersebut juga dilakukan dengan mendorong investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada sektor sekunder yang lebih membuka lapangan pekerjaan dengan kemudahan dalam perizinan, pajak, dan infrastruktur.

Pada 2023, industri manufaktur menunjukkan kinerja yang tetap terjaga meskipun dihadapkan pada kondisi ekonomi global yang kurang baik. Kinerja positif tersebut juga sebagai dampak dari kebijakan terkait TKDN dan hilirisasi.

Lebih lanjut Ina menuturkan terjadi pergeseran rasio ekspor hilir dan ekspor bahan mentah akibat dari program hilirisasi.

Ekspor produk hilir dari berbagai komoditas meningkat sejak adanya program hilirisasi. Ekspor produk hilir dari komoditas tambang, pertanian dan migas diprediksi meningkat di tahun 2024.

"Hilirisasi yang terjadi itu menyebabkan ekspor kita meningkat dengan produk yang memiliki nilai tambah," tuturnya.

Pada nikel, ekspor hilirnya sudah mencapai 99 persen, sementara ekspor bahan mentahnya hanya 1 persen. Pada industri kelapa sawit, 89 persen ekspor hilir dan 11 persen ekspor bahan mentahnya. Sedangkan pada industri rumput laut, ekspor hilirnya masih 33 persen dan ekspor bahan mentahnya 67 persen.

Pada APBN 2024, belanja barang dan belanja modal dialokasikan sebesar Rp655 triliun, sementara yang sudah dibelanjakan kurang lebih Rp572,45 triliun. Dengan demikian, anggaran yang tersisa dapat dioptimalkan sebagai peluang pasar produk dalam negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sektor industri pengolahan tumbuh 5,20 persen pada triwulan III-2023 year on year (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,94 persen pada periode yang sama.

Kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga masih menjadi yang tertinggi dan meningkat menjadi 1,06 persen dari 0,99 persen pada triwulan III-2022.

Baca juga: Menperin tegaskan industri manufaktur RI tangguh hadapi guncangan

Baca juga: Anies ingin dorong reindustrialisasi berkelanjutan

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Nurul Aulia Badar
Copyright © ANTARA 2024