berdasarkan riset, tantangan yang dihadapi perusahaan itu mencari talenta yang bagus itu susah
Jakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan pendidikan harus memperkuat keterampilan dasar seperti matematika, membaca, dan menulis terlebih dahulu agar siswa dapat menggunakan hal tersebut dalam berbagai konteks.

“Sadarilah bahwa secara keseluruhan universitas itu menghadapi kesulitan karena harus mengolah sumber daya yang rendah, jadi prosesnya cenderung lebih berat untuk mengolah mahasiswanya agar berhasil menjadi sarjana,” ujar Faisal Basri di Jakarta, Kamis.

Dia menambahkan data Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2022, menunjukkan kemampuan literasi, matematika dan sains anak-anak Indonesia lebih rendah jika dibandingkan tahun 2000.

“Penurunan ini terjadi sejak tahun 2015, jadi turun terus. Terakhir ada peningkatan itu dari tahun 2009 ke 2015. Ini juga menjadi pembelajaran barangkali pembangunan itu kembali harus diutamakan manusianya, bukan hanya fisik,” terang dia.

Selain itu, terjadi juga persaingan antara pendidikan formal dengan mikrokredensial dimana berbagai lembaga seperti Google memfasilitasi pendidikan dan sertifikasi lewat kursus-kursus pendek. Seharusnya universitas juga bisa memberikan sertifikat kompetensi dengan menjalin kerja sama antara asosiasi perguruan tinggi dan pemerintah daerah.

Baca juga: Menperin: Manfaatkan puncak bonus demografi dengan wirausaha
Baca juga: Kemenperin cetak 38 ribu tenaga kerja industri sepanjang 2023


Sementara Sekretaris Jenderal Forum Human Capital Indonesia (FHCI), Dharma Syahputra, mengatakan saat ini perusahaan mengalami kesulitan dalam merekrut calon pekerja karena cepatnya perubahan kebutuhan yang terjadi dan semakin spesifiknya keahlian yang dibutuhkan.

“Benar jika dikatakan ada bonus demografi. Dari sisi ketersediaan angkatan pekerja dan yang mencari kerja itu banyak sekali. Dari sisi permintaan, sebenarnya memang berdasarkan riset, tantangan yang dihadapi perusahaan itu mencari talenta yang bagus itu susah," katanya. 

Hal itu terjadi, menurut dia, karena terjadi kecepatan perubahan yang luar biasa dimana ada tren bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan itu semakin spesifik.

Calon pekerja juga harus memahami tren yang dibutuhkan di industri, seperti saat ini yang mana perusahaan di berbagai industri sedang mencari pekerja dengan keahlian adopsi teknologi dan energi terbarukan.

Ketua Komisi Tetap Pendidikan Dasar dan Menengah KADIN, Antarina SF Amir, mengatakan untuk menutup kesenjangan antara lulusan dan kebutuhan dunia kerja maka sistem pendidikan harus berubah sesuai dengan yang dibutuhkan dunia kerja.

Baca juga: Airlangga: Industri otomotif RI serap 1,5 juta tenaga kerja
Baca juga: Kemenperin pasok 309 SDM industri tekstil dari Politeknik STTT Bandung
Baca juga: AMTI: industri SKT perlu dilindungi demi perannya bagi ekonomi

 

Pewarta: Indriani
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2024