Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat menyiapkan anggaran Rp9 miliar untuk membeli bangunan tua bekas Bank Pemerintah Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) di areal bekas Pelabuhan Ampenan yang saat ini dikenal sebagai Pantai Bom.

"Bangunan tua bekas Bank Belanda tersebut kita beli sebagai upaya menyelamatkan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan di kota ini," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram Lalu Alwan Basri di Mataram, Sabtu.

Apalagi, selama ini banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke kawasan itu untuk melihat bangunan-bangunan tua peninggalan sejarah yang memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Bahkan, tidak jarang wisatawan dari Belanda datang secara rombongan untuk melihat berbagai peninggalan bangunan sejarah milik negaranya di Kota Tua Ampenan.

"Itulah yang memotivasi kita untuk menjadikan bangunan tua itu sebagai aset Pemerintah Kota Mataram agar dapat dijadikan bagian dari cagar budaya," katanya.

Baca juga: Rumah jabatan Kepala BI Jateng jadi cagar budaya

Ia mengatakan proses pembelian gedung bekas Bank Belanda tersebut saat ini dalam tahap persiapan tim appraisal atau penaksir harga dan untuk komunikasi dengan pemilik pemerintah kota sudah ada penghubung.

Pasalnya, katanya, bangunan dan lahan bekas Bank Belanda tersebut, saat ini sudah menjadi milik pribadi, sedangkan pemiliknya saat ini tinggal di Belanda, namun ada keluarga yang masih tinggal di Mataram dan siap menjadi penghubung.

"Insyaallah, untuk pembelian aset ini bisa cepat karena pemilik sendiri yang menawarkan kita untuk membayar," katanya.

Dengan demikian, pemerintah kota berharap alokasi anggaran untuk pembelian bangunan tua bisa di bawah anggaran yang telah disiapkan.

"Kalaupun di atas itu, kita akan komunikasikan agar bisa dibayar dua tahu tiga kali," katanya.

Setelah bangunan bekas Bank Belanda menjadi milik Pemerintah Kota Mataram, akan dilakukan penataan kembali tanpa mengubah bentuk asli.

Selanjutnya, bangunan itu akan menjadi museum untuk mempertahan nilai sejarah serta menjadi warisan dan wadah edukasi bagi generasi mendatang.

"Jadi berbagai benda sejarah berkaitan dengan pelabuhan serta kegiatan sosial masyarakat tempo dulu akan kita tampilkan agar bisa menjadi warisan bagi generasi yang akan datang," katanya.

Baca juga: Babel rehab Cagar Budaya Rumah Tuan Kuase Belitung
Baca juga: Yogyakarta fokus usulan tambahan bangunan cagar budaya dari Kotagede
Baca juga: Rumah Ibu Fatmawati jadi cagar budaya

Pewarta: Nirkomala
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2024