Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menargetkan dapat menjangkau sebanyak 175 Desa Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) di Indonesia pada 2024 atau bertambah 100 desa dibandingkan pada 2023 lalu.

Desa B2SA ini sebenarnya sebuah konsep kegiatan di tingkat desa yang merefleksikan dari tiga aspek yang ada di dalam ketahanan pangan. Tiga aspek tersebut yakni aspek ketersediaan, aspek keterjangkauan dan aspek pemanfaatan.

"Ketiga aspek itu, kami terjemahkan dalam satu kegiatan terintegrasi yang disebut dengan Desa B2SA,” ujar Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal, di Jakarta, Senin.

Desa B2SA terdiri dari tiga komponen yakni Teras Pangan B2SA, Gerai Pangan B2SA, dan Rumah Pangan B2SA.

Rinna menjelaskan Teras Pangan B2SA menggambarkan aspek ketersediaan pangan, oleh sebab itu ada kegiatan memanfaatkan lahan baik lahan desa, sekolah, PKK, dan lainnya untuk dapat memproduksi sayur-sayuran, umbi-umbian hingga sumber protein seperti unggas, ikan.

“Sehingga bisa memenuhi kebutuhan gizi seimbang, yakni ada sumber karbohidratnya, ada sumber proteinnya, ada sumber vitamin dan mineral. Dalam hal ini, teras pangan berfungsi memproduksi pangan dengan skala kecil sesuai dengan kebutuhan rumah tangga,” tambah dia.

Berikutnya, Gerai Pangan B2SA yang merupakan penerjemahan dari aspek keterjangkauan pangan. Pada gerai pangan tersebut, bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam menyediakan pangan yang bisa dibeli masyarakat setempat seperti minyak goreng, gula dan beras.

Selanjutnya, Rumah Pangan B2SA yang merupakan penerjemahan dari aspek pemanfaatan.

Rinna menambahkan pada rumah pangan, ada aspek pengolahan yang mana terdiri dari penyusunan menu dan pengolahan makanan, serta aspek makan bersama B2SA dan sosialisasi.

Penerima manfaat diberikan makanan, mendapatkan edukasi dan konsumsi pangan secara bersama-sama.

“Pemberian makanan B2SA diberikan sebanyak 36 kali yang diperuntukkan bagi 40 orang penerima,” terang dia.

Untuk penerima makanan B2SA diperuntukkan bagi anak yang memiliki potensi stunting, gizi buruk, gizi kurang, ibu hamil, ibu menyusui.

Penerima makanan tersebut tidak boleh diganti, karena ingin melihat dampak dari pemberian makanan gizi seimbang. Selain itu juga diberikan sosialisasi dan edukasi gizi pada masyarakat.

“Makanya dari awal, ada data yang diambil misalnya data berat badan, tingginya, lingkar lengannya. Nah setelah ditetapkan dan programnya selesai maka kita ukur kembali,” terang dia.

Untuk desa sasaran, lanjut dia, memang dipilih kabupaten/kota yang masih tinggi angka stuntingnya. Hal itu dikarenakan Desa B2SA bagian dari upaya untuk penurunan stunting di Tanah Air.

Melalui Desa B2SA diharapkan dapat melahirkan generasi yang sehat, aktif dan produktif, angka stunting menurut, dan daerah rentan rawan pangan menurun.

Baca juga: Dishanpang Kalteng optimalkan pengembangan desa B2SA atasi stunting

Baca juga: Disketpan Kalbar luncurkan desa B2SA di Melawi untuk turunkan stunting


Pewarta: Indriani
Editor: Nurul Aulia Badar
Copyright © ANTARA 2024